Konengkoneng
Jumat, 04 Agustus 2017
Jurnal STRATEGI GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA NEGERI 1 KUTA COT GLIE
STRATEGI GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA NEGERI 1 KUTA COT GLIE
1Haris Wandi 2Mujiburrahman 3Anton
Widyanto
1Mahasiswa
Prodi PAI
FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh
2Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry
3Dosen
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Penelitian
ini adalah terkait dengan strategi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie. Penelitian yang penulis gunakan yaitu penelitian
lapangan (field Research). Data dikumpulkan melalui lembar observasi,
wawancara dan Dokumentasi. penelitian ini menggunakan metode
penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan strategi
guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie yang digunakan adalah melalui metode ceramah, diskusi serta
mencontohkan akhlak. Pembelajaran dilakukan
secara bervariasi selama alokasi waktu yang tersedia, tidak monoton dan
membosankan. Bentuk-bentuk motivasi yang diberikan oleh guru
yaitu motivasi dari luar diri siswa yang diberikan dengan menggunakan cerita,
yakni menceritakan sejarah. Guru mengarahkan siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam proses
belajar mengajar. Berdasarkan hasil observasi kendala-kendala yang dihadapi guru PAI
disekolah SMA Negri 1 Cot Glie terkait dengan penguasaan media pembelajaran disebabkan kurang
media yang terdapat pada sekolah tersebut.
Metode pembelajaran jarang sekali memadukan dengan metode-metode yang lain dan
cenderung hanya
menggunaka metode ceramah.
Kata Kunci: Strategi Guru PAI, Motivasi, Belajar.
Abstrack
This research is related to
the strategy of Islamic Religious Education teachers in improving students'
motivation to study SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie. The research that the authors
use is field research (field Research). Data were collected through observation
sheets, interviews and documentation. This research uses descriptive
qualitative research method. The results showed that the strategy of Islamic
Religious Education teachers in improving students' learning motivation SMA
Negeri 1 Kuta Cot Glie used is through lecture method, discussion and exemplify
morals. Learning is done variably over time allocations that are available, not
monotonous and boring. The forms of motivation given by the teacher is the
motivation from outside the students self given by using the story, that is
telling history. The teacher directs the students to improve their ability in
teaching and learning process. Based on the observation of the constraints
faced by teachers of Islamic Religious Education at SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie
related to mastery of learning media caused less media contained in the school.
Learning methods rarely integrate with other methods and tend to use only
lecture methods.
Keyword : Teacher
Strategy of Islamic religious education, Motivation, Learning
مستخلص البحث
ويرتبط هذه الدراسة مع استراتيجية معلمي التربية الإسلامية في تحسين طالب
الدولة الدافع
المهد .... استخدام الكتاب بحوث مجال البحوث. وقد كوتا ١ العليا
الثانوية المدرسة في
تم جمع البيانات من خلال أوراق الملاحظة والمقابلة والوثائق. يستخدم هذا البحث
أساليب
البحث النوعي وصفية. أظهرت النتائج الاستراتيجية لمعلمي التربية الإسلامية في تحسين
الدافع طالب المدرسة المتوسطة في مدرسة ١كوتا المهد كّليّ. المستخدمة من خلال المحاضرات
والمناقشات، ويجسد شخصية. تعلم يتم يختلف ضمن الوقت المخصص متوفرة، لا رتابة ومملة.
أشكال الدوافع التي قدمها المعلم هو الدافع من خارج الطالب الحصول عليها مع القصة التي
تحكي التاريخ. المعلمين يؤدي الطلاب على تحسين عملية التعلم. واستنادا إلى رصد المعوقات
التي معلمي التربية الإسلامية في مدرسة المدرسة الثانوية العليا ١ كوتا المهد كّليّ. المرتبطة مع وسائل الإعلام إتقان التعلم الناجمة
عن نقص وسائل الاعلام الواردة في المدرسة التي تواجهها. طريقة التعلم نادرا ما تتحد
مع غيرها من الأساليب وتميل إلى جعل فقط استخدام أسلوب المحاضرة.
كلمات البحث: الإسلامية الدينية استراتيجيات المعلم والتعليم، والدافع،
والتعلم
A.
PENDAHULUAN
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar,
setiap guru akan menghadapi berbagai masalah yakni masalah yang dapat
dikelompokkan atas masalah pembelajaran dan masalah peranan guru sebagai
motivator, misalnya tujuan pembelajaran tidak jelas, media pembelajaran tidak
sesuai. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan sosok guru
yang profesional, dimana guru yang profesional adalah guru yang tidak hanya
menguasai prosedur dan metode pengajaran, namun juga sebagai motivator yang
kondusif. Dalam motivasi yang kondusif diharapkan mampu meningkatkan kualitas
pembelajaran.
Guru merupakan tenaga professional yang
memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual dan harus mengetahui
hal-hal yang bersifat teknis terutama hal-hal yang berupa kegiatan mengelola
dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (pembelajaran). Dalam pendidikan
guru dikenal adanya pendidikan guru berdasarkan kompetensi dengan sepuluh
kompetensi guru yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru yaitu
yang meliputi: menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola
kelas, menggunakan media/sumber, menguasai landasan pendidikan, mengelola
interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan
pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan,
mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah serta memahami
prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.[1]
Hal tersebut dianggap penting karena untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran yang tinggi maka harus melalui motivasi yang
baik. Pada saat pengelolaan proses belajar mengajar disadari atau tidak
disadari setiap guru menggunakan pendekatan dan menerapkan teknik-teknik
motivator. Strategi yang biasa digunakan antara lain: memberikan nasihat,
teguran, larangan, ancaman, teladan, hukuman, perintah dan hadiah. Selain itu
ada guru yang memotivasi siswa dengan cara yang ketat yakni mengandalkan sikap
otoriter tanpa memperhatikan kondisi emosional siswa dan ada pula yang
membiarkan siswa secara penuh berbuat sesuka hati.
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi
merupakan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin
kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan
dapat tercapai. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa motivasi sangat penting
dalam proses pembelajaran hal ini disebabkan oleh seseorang yang tidak memiliki
motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.[2]
Karena belajar itu suatu proses yang timbul dari dalam, maka motivasi memegang
peranan penting. Jika guru atau orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada
anak-anak, maka timbullah dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik.[3]
Realitas dilapangan membutikan bahwa siswa SMA
Negeri 1 Kuta Cot Glie, minatnya kurang dalam belajar Pendidikan Agama Islam
sehingga berdampak pada keberhasilan siswanya. Hal ini dibuktikan dengan nilai
rata-rata untuk program kelas IPS dibawah standar yaitu 50-70, sedangkan nilai
keriteria ketuntasan minimal (KKM) di sekolah ini untuk program IPS adalah 76,
dan sekolah ini masih menggunakan kurikulum KTSP; siswanya lebih senang terhadap
praktek dibandingkan dengan belajar teori.[4]
B.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang penulis gunakan yaitu
penelitian lapangan (field Research) yakni penelitian yang pengumpulan
datanya dilapangan pada saat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam ataupun diluar
pembelajaran. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
kualitatif, yakni penelitian yang bertujuan untuk mengangkat fakta, keadaan,
variabel dan fenomena-fenomena yang tejadi ketika penelitian berlangsung dan
menyajikan apa adanya. Adapun teknik pengumpulan datanya yaitu melalui
wawancara, observasi dan dokumentasi.
Adapun langkah-langkah pemeriksaan data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Membandingkan data hasil pengamatan terkait denganstrategi guru PAI dalam meningkatkan
motivasi belajar siswa SMAN I Kuta Cut
Glie dengan hasil wawancara guru
PAI.
b. Membandingkan hasil wawancara
guru PAI dengan hasil pengamatan saat pelaksanaan pembelajaran, strategi guru PAI dalam meningkat motivasi belajar siswa SMAN I Kuta Cot Glie (dalam hal ini melalui observasi/pengamatan).
C.
HASIL PENELITIAN
Analisis hasil Penelitian lapangan yang peneliti
lakukan di SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie dengan lembaran observasi yang disiapkan
dengan mengacu kepada 15 pertanyaan yang telah disediakan yaitu sebagai
berikut:
a.
Strategi
dalam Pembelajaran
1. Pembelajaran dilakukan secara bervariasi selama
alokasi waktu yang tersedia, tidak monoton dan membosankan.
Pada setiap kelas yang ada, dari
kelas X sampai dengan kelas XII pembelajaran yang dilakukan tidak secara
bervariasi selama alokasi waktu yang tersedia, tidak monoton dan
membosankan. Pembelajaran yang dilakukan
hanya menggunkan metode ceramah tidak memperpadukan berbagai macam metode yang
ada. Jadi dapat dikatakan denga lembaran
observasi pertanyaan pertama, tidak dapat membangkitkan gaira motivasi belajar
siswa. Seharusnya pembelajaran dilakukan secara bervariasi menggunakan metode
yang berbeda-beda sesuai dengan materi yang ada.
2. Guru mendemonstrasikan Ilustrasi dan contoh dipilih
secara hati-hati sehingga benar-benar efektif
Pada pernyataan ini guru PAI tidak
mendemonstrasikan Ilustrasi dan contoh dipilih secara hati-hati sehingga
benar-benar efektif. Pembelajaran tidak nampak efektif hanya dengan melakukan
metode ceramah saja, sehingga pembelajaran tidak sesuai ketercapaian yang
diinginkan.
3. Selama proses pembelajaran guru memberikan kesempatan
untuk bertanya kepada siswa.
Dari kelas X sampai XII Dalam
pembelajaran guru selalu memberikan pelung kepada siswa dalam menyampaikan
pertanyaan sehingga pembelajaran dapat dikatakan efektif ketika siswa aktif
didalam kelas. pada pernyataan ini dapat dikatakan pembelajaran tidakhanya
berpusat pada guru melainkan siswa ikut andil didalamnya.
4. Jika ada siswa yang bertanya, guru memberikan
kesempatan kepada siswa lain untuk menjawab sebelum guru menjawab.
Pada tahap pernyataan ini guru
berbada disetiap kelasnya seperti contohnya pada kelas X guru tidak memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari siswa lain, melainkan
lansung menjawab pertanyaan yang ada. Sedangkan pada tingkat kelas XI dan XII
guru memberikan kesempatan bagi para siswa untu menjawab pertanyaan dari
temannya sebelum guru menguatkan hasil jawaban yang diberikan siswa.
5. Guru menciptakan metode
mengajar dimana para siswa bisa saling bekerja sama.
Dalam pernyataan ini
guru berbeda dalam memberikan pembelajaran, pada kelas X dan kelas XII guru
menggunakan metode dalam pembelajaran pembelajaran, sehingga para siswa dapat
saling bekerja sama dalam pembelajaran yang sedang berlansung. Sedangkan pada
kelas XI IPA dan IPS, guru tidak menggunakan metode yang bervariasi hanya
menggunakan metode biasa pada umumnya yaitu metode ceramah. Pembelajaran hanya
perpusat pada guru, dan sehingga siswa tidak bisa saling bekerja sama.
Pernyataan lembaran observasi Strategi dalam Pembelajaran,di dalam pembelajaran dalam lima pernyataan
di atas, guru masih kurang dalam strategi mengajar dapat diliat dengan hasil
pernyaataan yang peneliti lakukan dengan lembaran observasi yang dilakukan pada
setiap kelas. Hanya setenga dari pernyataan saja yang dapat dicapai dalam
menerapkan strategi pembelajaran PAI.
b.
Motivasi dalam pembelajaran
motivasi itu adalah sesuatu yang ada dalam diri seseorang, yang
mendorong orang tersebut untuk bersikap dan bertindak guna mencapai tujuan
tertentu. Motiv dapat berupa kebutuhan dan cita-cita.
Bentuk motivasi dalam pembelajaran yang diberikan guru
PAI, dalam hal ini peneliti telah menyiapkan lima pernyataan yaitu sebagai
berikut:
1. Guru mengarahkan siswa
untuk meningkatkan kemampuan dalam proses belajar.
Dalam
pernyataan pertama guru PAI, di semua kelas X sampai dengan kelas XII, guru
mengarahkan siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam peroses belajar.Dapat
dikatakan berhasil dan sesuai dengan pernyataan yang telah disediakan peneliti
dalam kategori memotivasi siswa dalam belajar.
2. Guru memberikan latihan kepada siswa sesuai dengan
minat siswa
Dalam
memberikan latihan di semua jenjang kelas X sampai XII guru PAI tidak
memberikan latihan sesuai dengan minat siswa, guru memberikan latihan apa
adanya yang ia anggap perlu menunjang hasil yang diingikan guru, tidak terlihat minat siswa untuk mengerjakan latihan yang
diinginkannya.
3.
Guru selalu
bersikap terbuka dan tidak menganggap negatif apabila siswa melakukan
kesalahanan dalam proses belajarnya.
Apabilah siswa melakukan kesalahan
guru tidak lansung bersikap negatif kepada siswa misalnya dalam hal siswa
memberikan tanggapan pertanyaan dari guru maupun temannya, guru tidak lansung
mengatakan salah kepaada siswa yang memberikan tanggapan tersebut melainkan
memberikan apresiasi kepada siswa karena telah berani mengungkapkan apa yang
siswa anggap benar. Dalam hal kesalahan lainnya guru tidak lansung menghukum
siswa melainkan menegur siswa yang melakukan kesalahan, disemua kelas X sampai
XII guru selalu bersikap terbuka kepada siswanya.
4.
Guru memberikan apresiasi bagi siswa yang menunjukan kelakuan
dan kinerja yang baik.
Bagi
siswa yang aktif dalam pembelajaran guru memberikan apresiasi untuk memotivasi
siswa lainnya agar dapat aktif juga dalam pembelajaran, misalnya guru
memberikan rewad bagi siswayang
menunjukan kinerja yang baik. Guru melakukannya disemua kelas X sampai XII.
5.
Guru mengarahkan siswa yang memiliki minat belajar yang
datang dari dalam dirinya sendiri.
Disemua
kelas dalam pembelajaran PAI guru selalu mengarakan siswa myang memiliki minat
belajar yang datang dari siswa, senada dengan pernyaatan sebelumnya guru selalu
terbuka kepada siswa dan selalu memberikan apresiasi kepada siswa yang aktif
dan semangat dalam pembelajaran.guru dalam setiap kelas X sampai XII dalam
pembelajaran selalu mengarakan siswa yang memiliki minat belajar.
Sterategi guru PAI
dalam memberikan motivasi kepada siswa sangat membantu siswa untuk lebih giat
dalam belajar ini termasuk dalam motivasi ekstrinsik
yaitu: motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari
luar.
c. Kendala
Dalam Pembelajaran
1.
Dalam proses
belajar mengajar guru lebih banyak menggunakan metode ceramah
Dalam proses belajar mengajar guru
selalu menggunakan metode bisasa pada umumnya yaitu metode ceremah jarang
sekali memperpadukan metode-metode yang ada misalnya seperti kerja kelompok,
diskusi, eksperimen dan lain sebagainya. Kendala yang dihadapi guru kurangnya
mengetahui beberapa metode yang ada. Guru dalam pembelajaran disetiap kelas X
sampai XII menggunakan metode ceramah.
2.
Guru tidak
memakai media dalam proses pembelajaran.
Kendala lainnya pada setiap kelas X sampai XII kurangnya media yang
terdapat pada sekolah sehingga tidak tercapainya proses belajar-mengajar yang
memadai disebabkan guru hanya menyampaikan saja tampa ada alat bantu media yang
menunjang proses beajar mengajar.
3.
Guru tidak
mahir dalam menggunakan media pembelajaran.
Dalam menggunakan metode guru juga
kurang mahir disebabkan tidak adanya pelatihan guru yang memadai dan sangat
minim media yang ada pada sekolah tersebut, guru yang terdapat di SMA Negri 1
Kuta Cot Glie hanya berjumlah satu orang saja.
4.
Guru tidak
memperhatikan dan menegur siswa yang ribut ketika pelajaran berlangsung.
Guru juga jarang memperhatikan dan
menegur siswa yang rebut ketika pembelajaran berlansung, guru membiarkan saja
jarang sekali menegur siswa yang rebut ketika didalam kelas. hasil lembaran
observasi guru hanya menegur siswa pada kelas XII. Di kelas lainnya guru kurang
memperhatikan hanya focus kepada siswa yang aktif saja.
5.
Guru
mengabaikan siswa yang bertanya.
Didalam setiap kelas
dalam proses belajar guru tidak mengabaikan siswa yang bertanya maupun yang
memberi apresiasi tanggapannya, guru mengarakan siswa yang ingin menyampaikan
pendapatnya disetiap kelas X ampai XII IPA dan IPS. Sehingga tidak terdapat
kendala bagi siswa yang ingin menyampaikan pendapatnya.
Kendala-kendala yang
dihadapi guru PAI disekolah SMA Negri 1 Cot Glie hanya terdapat kurangnya
menguasai media pembelajaran disebabkan kurang media yang terdapat pada sekolah
tersebut, dalam penguasaan metode pembelajaran jarang sekali memperpadukan
metode yang ada hanya menggunaka metode ceramah saja.
D.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi yang digunakan guru PAI dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa adalah melalui metode ceramah, diskusi serta mencontohkan akhlak. Bentuk motivasi yang diberikan oleh guru PAI
yaitu motivasi ekstrinsik (motivasi yang diransag dari luar diri siswa) yang
diberikan dengan menggunakan cerita. Yaitu menceritakan kisah-kita perjuangan Rasulullah
dan sahabatnya. Contoh tersebut digunakan sebagai cara untuk membangkitkan semangat
belajar siswa. Kendala yang dihadapi guru PAI dalam proses belajar
mengajar adalah
kurangnya sarana prasarana
yang terdapat di sekolah,
seperti media pembelajaran, buku paket untuk pegangan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2007).
http://www.bruderfi.or.id./h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa-html. Diakses pada
Tanggal 24 April 2016.
Abdul
Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam,
(Jakarta: Kencana, 2009).
[1]Sardiman, Interaksidan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2007), hal. 162.
[2]http://www.bruderfi.or.id./h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa-html. Diakses pada Tanggal 24 April 2016.
[3]Abdul Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar
Dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 223.
Rabu, 15 Februari 2017
Tafsir Ayat-Ayat Tentang Ayat-Ayat Psikologi
KATA
PENGANTAR
- Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadiran allah swt. karena dengan qudrah dan iradah-nyalah kami telah dapat menyelesaikan makalah ini, yang berjudul “Tafsir Ayat-Ayat Tentang Ayat-Ayat Psikologi”.
- Shalawat dan salam kami hantarkan kepangkuan Nabi besar yaitu nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang dan dari alam kebodohan menuju alam yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
- Adapun dari pada itu dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak keselahan dan kejanggalan. Oleh karena itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sangat saya harapkan demi kesempurnaan dimasa yang akan datang, sebagai harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami sendiri, dan umumnya bagi kita semua.
Banda Aceh, 19 Mei
2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LatarBelakang........................................................................................ 1
B. RumusanMasalah................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Tafsir
surat Asy-Syams ayat 7-10.......................................................... 2
B.
Tafsir
surat Al-Qiyamah Ayat 1-6 ................................................. ....... 7
C.
Tafsir
surat yusuf Ayat 53 .................................................................. 10
D.
Tafsir
surat Al-Ma’arij ayat 19-26 ....................................................... 12
E.
Tujuan
Pembersihan Jiwa .............................................................. 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................... 17
B. Saran
................................................................................................... 17
DARTAR PUSTAKA.......................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Walaupun proyek rekontruksi islami pada kajian psikologi bukan
sekedar mengumpulkan ayat-ayat dan hadist Rasulullah yang mengulas tentang jiwa
manusia, ataupun mengumpulkan penjelasan yang banyak ditulis ditulis buku-buku
tafsir dan hadist, namun kita tetap membutuhkan semuanya itu untuk menentukan
batasan ilmu pengetahuan dan batasan definisi manusia, sehingga menjadikan
proyek inipun selaras dengan penafsiran ilmiah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist
Rasulullah.
Barang siapa yang ingin mengetahui sikap Al-Qur’an dan sunnah
terhadap proyek rekontruksi islami pada kajian psikologi, maka ia harus bisa
memahami penafsiran keduanya dengan penafsiran ilmiah disini bukan penafsiran
menurut bahasa, yakni salah satu jenis penafsiran yang apabila semua syaratnya
terpenuhi maka ia disebut penafsiran ilmiah. Yang dimaksud disini adalah
penafsiran yang dapat dipahami olek khalayak umum.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Tafsir
Surat Asy-Syams Ayat 7-10
2.
Tafsir
surat Al-Qiyamah 1-6
3.
Tafsir
Surat Yusuf Ayat 53
4. Tafsir Surat Al-Ma’arij Ayat 19-26
5. Tujuan
Pembersihan Jiwa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tafsir
Surat Asy-syams Ayat 7-10
1)
Teks
Ayat
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ ôs% yxn=øùr& `tB $yg8©.y ÇÒÈ ôs%ur z>%s{ `tB $yg9¢y ÇÊÉÈ
2)
Mufradat
/ kosa kata surat Asy-Syams 7-10
Barang
Siapa =
`tB
Mensucikannya (jiwa itu) = $yg8©.y
Dan Sesungguhnya = s%ur
Merugilah = >%s{
Mengotori (jiwa) nya.
= $yg9¢y
Dan demi jiwa = وَنَفْس
Serta penyempurnaannya =وَمَاَ سَوَّاهَا
Maka
Allah mengilhamkan = $ygyJolù;r'sù
Kefasikan = $yduqègéú
Ketakwaan = اqø)s?ur
Sesungguhnya
beruntunglah =
قَدْأَفْلَح
3)
Terjemahan
“Dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S Asy-Syams: 7-10)
4)
Tafsir
Ayat
Tafsir An-Nur
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا = “dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya)”.
Allah bersumpah
dengan jiwa yang telah diberi berbagai macam kekuatan dan berbagai naluri, yang
dengan kekuatan-kekuatan dan insting(naluri) itulah jiwa memperoleh
kesempurnaan hidup.
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا = “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya.”
Allah
mengilhamkan kepada jiwa-jiwa tentang sebab-sebab kebinasaan dan kerugian serta
sebab-sebab yang bisa dipergunakan untuk menyelamatkan jiwa dari kebinasaan.
Tegasnya, Allah memberi akal kepada manusia yang dapat dipergunakan untuk
membedakan antara kebajikan dan kejahatan serta diberi kesanggupan berbuat
maksiat yang membinasakan dan kesanggupan berbuat kebajikan yang melepaskannya
dari azab neraka.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا =“Sesungguhnya beruntunglah
orang yang mensucikan jiwa itu,”
Orang yang
menyucikan jiwanya dan menyuburkan rohaninya, serta memanjatkan jiwanya kepada
kesempurnaan. Itulah orang yang memperoleh kemenangan.
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا = “dan Sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.”
Orang yang
mencampakkan dirinya kedalam kebinasaan dengan mengerjakan kemaksiatan dan
menjauhi kebajikan serta kebaktian, itulah orang yang merugikan dirinya.[1]
Tafsir Al-Misbah
Allah
melanjutkan sumpah-Nya dengan mengingatkan tentang jiwa manusia-dan inilah yang
dituju-agar menyadari dirinya dan memperhatikan mahluk yang disebut oleh
ayat-ayat yang lalu. Allah berfirman: Dan Aku juga bersumpah Demi jiwa
manusia serta penyempurnaan cipataan-Nya. Hingga mampu menampung
yang baik dan yang buruk lalu Allah mengilhami yakni member potensi dan
kemampuan bagi bagi jiwa itu untuk menelusuri jalan kedurhakaan dan
ketaqwaannya.tersera kepada-Nya yang mana diantar keduanya yang dipilih serta
diasah dan diasuhnya.
Kata (فَأَلْهَمَهَا ) fa alhamaha terambil
dari kata ( اللَّهْم) Al- lahm yakni menelan
sekaligus. Dari sini lahir kata ( الهام ) Ilham. Memang ilham atau intusi dating
secara tiba-tiba tanpa disertai analisis sebelumnya, bahkan kadang-kandang
tidak terfikirkan sebelumnya. kedatangannya bagaikan kilat dalam sinar dan
kecepatannya, sehingga manusia tidak dapat menolaknya, sebagaimana tak dapat
pula mengundang kehadirannya. Potensi ini ada pada setiap insane, walaupun
peringkat dan kekuatannya berbeda antara seseorang dengan orang yang lain.
Ibn ‘Asyur
memehami kata Alhama dalam arti anugerah Allah yang menjadikan seseorang
memahami pengetahuan yang mendasar serta menjangkau hal-hal yang bersifat
aksioma bermula dengan keterdorongan naluriah kepada hal-hal yang bermanfaat,
hingga mencapai tahap awal dari kemampuan meraih pengetahuan yang bersifat
Akliah.
Thabathaba’i menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan “mengilhami jiwa” adalah penyampaian Allah kepada
manusia tentang sifat perbuatan apakah dia termasuk ketakwan atau kedurhakaan,
setelah memperjelas perbuatan dimksud dari sisi subtansinya sebagai perbuatan
yang dapat menampung ketakwaan atau kedurhakaan.
Sayyid Quthub
menulis bahwa manusia adalah makhluk dwi dimensi dalam tabiatnya, potensinya
dan dalam kecenderungan arahnya. Ini karena ciri penciptaannya sebagai mahluk
yang tercipta dari tanah dan hembusan ruh dari Ilahi, menjadikannya memiliki
potensi yang sama dalam kebajikan dan keburukan, petunjuk dan kesesatan.
Manusia mampu membadakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu
mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau keburukan dalam kadar yang sama.[2]
Ulama memahami
ayat diatas dalam Arti, “telah beruntunglah manusia yang disucikan jiwanya oleh Allah dan merugilah orang yang dia
dibiarkan Allah berlarut dalam pengotoran jiwanya.”[3]
Tafsir Ibnu
Katsir
Firman Allah : (وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا) “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya)”. Yakni
penciptaannya yang sempurnah lagi tegak pada fitrah yang lurus. Sedangkan
firman-Nya : (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا )“Maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,” yakni Dia mengarahkan kepada kekejian dan ketakwaan. Artinya, Dia
menjelasan kepadanya seraya menunjukkan kepada apa yang ditakdirkan untuknya.
Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Dia (Allah) menjelaskan yang baik dan yang buruk
kepadanya.
Firman Allah
Ta’alah: ( وَقَدْ خَابَ مَنْ
دَسَّاهَا .قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ) “Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, “dan Sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya.” Ada kemungkinan hal itu berarti beruntunglah
orang yang menyucikan dirinya, yakni dengan mentaati Allah, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Qatada, dan membersihkannya dari akhlak tercelah dan berbagai
hal yang hina.
Beruntunglah
orang yang disucikan jiwanya oleh Allah SWT dan merugilah orang-orang yang dibuat kotor oleh-Nya. Imam Ahmad
diriwayatkan dari zaid bin Arqam, dia berkata: “Rasulullah SAW. Telah Bersabda:
(( اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ
الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ, وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ.
اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا, وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُوْ مَنْ زَكَّاهَا,
أَنْتَ وَلِيُهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اِنّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا
يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ لَا تَشْبَعُوْ وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُوْ وَدَعْوَةٍ لَا يُشْتَجَابُ
لَهَا. ))
Artinya:
“Ya Allah,
Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, juga
ketuaan, pengecut, kikir dan adzab kubur. Ya Allah, Berikanlah ketakwaan pada
jiwaku dan suciknlah, sesungguhnya Engkau sebaik-baik Rabb yang menyucikannya,
Engkau pelindung sekaligus penguasa. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’ dan dari jwa yang tidak pernah
merasa puas, juga ilmu yang tidak bermanfaat serta do’a yang tidak dikabulkan.”
Zaid berkata:
“Rasulullah SAW pernag mengajarkan Do’a itu kepada kami dan kami pun
mengajarkannya kepada kalian.” Diriwayatkan oleh Muslim. [4]
B.
Tafsir
surat Al-Qiyamah 1-6
1.
Teks
Ayat
Iw ãNÅ¡ø%é& ÏQöquÎ/ ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÊÈ Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ 4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ ö@t/ ßÌã ß`»|¡RM}$# tàføÿuÏ9 ¼çmtB$tBr& ÇÎÈ ã@t«ó¡o tb$r& ãPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÏÈ
2.
Mufradat
/ kosa kata surat Al-Qiyamah 1-6
Mengumpulkan = ìyJøgªU
Besi = mtB$sàÏã
Kami berkuasa =
tûïÍÏ»s%
Hari
kiamat = ÏpyJ»uÉ)ø9$#ãPöqt
Aku bersumpah = NÅ¡ø%é&w
Dengan
jiwa = بِالنَّفْسِ
Menyesali = اللَّوَّامَةِ
Mengira = =|¡øtsr&
3.
Terjamahan
Ayat
Aku
(Allah) bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat
menyesali (dirinya sendiri)[5],
Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang
belulangnya?, bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari
jemarinya dengan sempurna, bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus
menerus, ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?. (Q.S. Al-Qiyamah: 1-6)
4.
Tafsir
Ayat
Iw ãNÅ¡ø%é& ÏQöquÎ/ ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÊÈ Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ
“Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku
bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri)”
Kata ( w ) la pada awal ayat diatas ada yang memahami sebagai
sisipan yang berfungsi menguatkan kata sesudahnya yaitu “aku bersumpah” juga
ada yang memahaminya dalam Arti tidak. Disini ada yang berpendapat bahwa kata tidak
berkaitan dengan kata sesudahnya sehingga ia berarti: “aku tidak bersumpah”
dan ada juga yang memahaminya sebagai menafikan kata yang tersirat dalam benak.
Seakan-akan menyatakan: tidak! Bukan seperti apa yang kamu duga. Aku bersumpah
demi hari kiamat.
Kata (pB#لوّ) lauwwamah terambil dari kata ( لام ) lama yang
berarti mengecam diri sendiri.
Jiwa yang menyandang
sifat ini, berada diantara dua jiwa lainnya yaitu (المطمئنّة) Al-muthma’innah yakni yang selalu
patuh kepada tuntunan Ilahi dan merasa tenang dengan-Nya, dan ( الأمارة ) Al-ammarah yakni yang selalu
durhaka dan mendorong pemiliknya untuk membangkang perintah-Nya dan mengikuti
nafsunya. Lauwwamah adalah Yang menyesal dan mengecam dirinya
jika melakukan kesalahan.[6]
Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ 4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ
“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak
akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?, bukan demikian, sebenarnya
Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”
Apa yang ditegaskan oleh ayat yang lalu
tentang keniscayaan hari kiamat mestinya disambut dengan pembanaran oleh
seluruh mahluk, tetapi ada yang enggan percaya.
Memahami ayat diatas dalam makna
tersebut sangat jauh dari konteknya yang pada dasarnya adalah bantahan kepada
kaum musyrikin yang mengingkari kuasa
Allah membangkitkan tulang-tulang yang telah mati. Memang ayat diatas menggugah
hati dan pikiran manusia untuk memperhatikan dirinya antara lain jari
jemarinya, bagaimana Allah menciptakannya demikian istimewa.
ö@t/ ßÌã ß`»|¡RM}$# tàføÿuÏ9 ¼çmtB$tBr& ÇÎÈ ã@t«ó¡o tb$r& ãPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÏÈ
“Bahkan manusia hendak membuat maksiat
terus menerus., ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?".
Sebenarnya keniscayaan hari kiamat sudah
demikian jelas, sehingga Allah tidak
perlu bersumpah tentang keniscayaannya. Manusia bukannya mengirah bahwa
Allah tidak berkuasa mewujudkannya, bahkan yakni tetapi menusia
hendak melampiaskan hawa nafsunya Agar ia terus menerus melakukan
kedurhakaan / berbuat kemaksiatan terus menerus. Karena sifat buruk
tersebut telah demikian mantap pada kepribadiannya, atau sebagai bukti
kedurhakaannya maka ia bertanya dengan tujuan mengejek: Bilakah terjadinya
hari kiamat. Demikian Al-Biqa’I menghubungkan dan memahami ayat-ayat
diatas.[7]
C.
Tafsir
Surat Yusuf Ayat 53
1.
Teks
Ayat
!$tBur äÌht/é& ûÓŤøÿtR 4 ¨bÎ) }§øÿ¨Z9$# 8ou$¨BV{ Ïäþq¡9$$Î/ wÎ) $tB zOÏmu þÎn1u 4 ¨bÎ) În1u Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÎÌÈ
2.
Mufradat / kosa kata
surat yusuf Ayat 53
Sesungguhnya
Tuhanku = În1u ¨bÎ)
Maha
Pengampun = Öqàÿxî
Maha
Penyanyang = ×LìÏm§
Diri (jiwa) = ûÓŤøÿtR
Membebaskan
= Ìht/é&
Rahmat
Tuhanku = În1u zOÏmu
3.
Terjemah Ayat
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari
kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q.S Yusuf :
53).
4.
Tafsir Ayat
Ayat ini adalah lanjutan yang lalu.
Al-Biqai yang menilai ayat yang lalu merupakan ucapan Yusuf as. Berpendapat
Yusuf lebih lanjut berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan apapun. Namun-walaupun
demikian, aku bersukur bahwa aku dipelihara oleh Allah dan diberi-Nya taufik.
Aku tidak menuntut-pembebasanku dari kesalahan sekadar untuk pembersihan namaku,
karena sesungguhnya salah satu jenis nafsu manusia adalah nafsu yang selalu
menyuruh kepada kejahatan , kecuali pada waktu dirahmati oleh
Tuhanku-menghalanginya atau kecuali dengan melindungi seseorang sehingga Allah
swt menghalangi nafsunya atau ke-cuali apa yang dirahmati Allah dari
jenis-jenis nafsu sehingga nafsu itu tidak memerintahkan kepada kejahatan.
Adapun menurut Ibn Katsir, ayat ini
adalah lanjutan ucapan istri al-Aziz yang menggoda Yusuf itu. Disini, setelah
pengakuannya yang lalu dia melanjutkan bahwa “Aku tidak membebaskan diriku dari
kesalahan dan dosa karena nafsu selalu berbisik dan mengidam-idami. Karena
nafsu yang demikian itu maka aku menggodanya. Istri al-Aziz berkata “Akulah
yang mnyampaikan pada suamiku pada saat aku terperanjat (bertemu di pintu) dan
ketika emosi aku memuncak bahwa, Apakah pembalasan terhadap orang yang
bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau siksa yang pedih? Sebenarnya
tidak ada yang mendorong aku mengucapkannya kecuali hawa nafsu dan syahwat aku.
Sesungguhnya nafsu manusia sangat banyak mendorong pemiliknya kepada keburukan
kecuali jiwa yang dirahmati Allah dan dipelihara dari penyimpangan seperti
halnya jiwa Yusuf.[8]
Al-qur’an memperkenalkan tiga macam tingkatan
nafsu manusia yaitu:
v Pertama,
An-nafs al-ammarah yakni yang selalu mendorong pemiliknya berbuat keburukan.
v Kedua,
An-nafs al-lawwamah yang selalu mengecam pemiliknya begitu dia melakukan
kesalahan, sehingga timbul penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulanginya
lagi,
v Ketiga
An-nafs al-muthma’innah, yakni jiwa yang tenang karena selalu mengingat Allah
dan jauh dari perbuatan dosa.
D.
Tafsir Surat Al-Ma’arij Ayat 19-26
1.
Teks Ayat
* ¨bÎ) z`»|¡SM}$# t,Î=äz %·æqè=yd ÇÊÒÈ #sÎ) çm¡¡tB ¤³9$# $Yãrây_ ÇËÉÈ #sÎ)ur çm¡¡tB çösø:$# $¸ãqãZtB ÇËÊÈ wÎ) tû,Íj#|ÁßJø9$# ÇËËÈ tûïÏ%©!$# öNèd 4n?tã öNÍkÍEx|¹ tbqßJͬ!#y ÇËÌÈ úïÉ©9$#ur þÎû öNÏlÎ;ºuqøBr& A,ym ×Pqè=÷è¨B ÇËÍÈ È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãósyJø9$#ur ÇËÎÈ tûïÏ%©!$#ur tbqè%Ïd|Áã ÏQöquÎ/ ÈûïÏd9$# ÇËÏÈ
2.
Mufradat
/ kosa kata surat Al-Ma’arij ayat 19-26
Hari pembalasan = ûïÏd9$#يَوْمَ
Mempercayai = tbqè%Ïd|Áã
Amat kikir = $¸ãqãZtB çösø:$#
Sesungguhnya
manusia = z`»|¡SM}$# ¨bÎ)
Keluh kesah
lagi kikir =%·æqè=yd t,Î=äz
Ditimpa kesusahan = çm¡¡tB
3.
Terjemahan
Ayat
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir,
apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat
kebaikan ia Amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang
mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya
tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak
mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai
hari pembalasan. (Q.S. Al-Ma’arij : 19-26)
4.
Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman seraya menceritakan tentang manusia dan akhlak
tercelah yang diciptakan padanya. (( هَلُوعًا t,Î=äz
z`»|¡SM}$# ¨bÎ) )) “Sesungguhnya manusia
diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” Kemudian Dia menafsirkan
melalui firmannya ini : (( $Yãrây_¤³9$#
çm¡¡tB #sÎ) ))
“Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” Maksudnya jika dia
ditimpah oleh suatu hal yang menyusahkan, maka dia akan gusar dan mengeluh.
Hatinya pun hancur karna rasa takut yang amat menyeramkan dan karena putus asa
dari mendapat kebaikan. (( $¸ãqãZtBçösø:$#çm¡¡tB #sÎ)ur ))
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.”
Maksudnya, jia dia mendapat kenikmatan dari Allah, maka dia sangat kikir
memberikannya kepada orang lain dan menolak memberikan hak Allah dari nikmat
yang didapatkannya tersebut. Kemudian Allah taalah berfirman: (( tû,Íj#|ÁßJø9$#wÎ)
)) “Kecuali orang-orang yang mengerjakan Shalat.” Yakni, manusia dengan
beberapa sifat tercelahnya, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah dan
diberi taufiq serta hidayah menuju kebaikan dan juga diberi kemudahan untuk
mendapatkannya, mereka itulah orang-orang yang mengerjakan Shalat. (( tbqßJͬ!#y
öNÍkÍEx|¹
4n?tã öNèd tûïÏ%©!$# )) “yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” Ada yang berpendapat, maknanya adalah mereka senantiasa memelihara
waktu dan semua kewajiban shalat. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud,
Masruq dan Ibrahim Nakha’i.
Ada
juga yang menyatakan, maksud (( tbqßJͬ!#y))
disisni berarati tenang dan khusyu’. Seperti firman Allah Swt : (( الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ
. قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
)) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya.”(Q.S. Al-Mu’minun:1-2).
Demikian yang dikemukakan Oleh Uqbah bin ‘Amir.
Dan
firman Allah Swt : ( ( ÏQrãósyJø9$#ur È@ͬ!$¡¡=Ïj9
. ×Pqè=÷è¨B
A,ym öNÏlÎ;ºuqøBr& þÎû úïÉ©9$#ur
)) “dan orang-orang
yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta
dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. Yakni, pada harta mereka terdapat yang telah ditetapkan bagi
orang-orang yang membutuhkan.
Firman-Nya
lebih lanjut: (( ÈûïÏd9$#ÏQöquÎ/ tbqè%Ïd|Áã
tûïÏ%©!$#ur
)) “dan orang-orang
yang mempercayai hari pembalasan”.
Yakni, meyakini hari kebangkitan, hisab, dan pembalasan. Mereka mengerjakan
amal orang-orang yang mengharapkan pahala dan takut akan hukuman.[9]
E.
Tujuan Pembersihan
Jiwa
Tujuan pembersihan jiwa adalah ketakwaan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya, takwa hanya dapat
terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa. Sementara, kebersihan
jiwa juga tidak dapat terjadi tanpa takwa. Jadi, keduanya saling terkait dan
saling membutuhkan.
Sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala,
xsù… (#þq.tè? öNä3|¡àÿRr&
( uqèd ÞOn=÷ær&
Ç`yJÎ/ #s+¨?$# ÇÌËÈ
Artinya:
“Maka, janganlah kamu
menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa.”
(Qs. an-Najm: 32).
Serta firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
$pkâ:¨Zyfãyur s+ø?F{$# ÇÊÐÈ Ï%©!$#
ÎA÷sã ¼ã&s!$tB
4ª1utIt ÇÊÑÈ
Artinya:
“Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari
api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya.”
(Qs. al-Lail/92: 17-18).
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa pembersihan jiwa pada
hakikatnya adalah ketakwaan kepada Allah.[10]
Dan memang tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah.
Di sini perlu juga dipahami dengan baik sabda Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam berikut,
اَللَّهُمَّ آتِ
نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلاَهَا
( رواه مسلم )
Artinya:
“Ya Allah! Anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku,
bersihkanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkan jiwa. Engkaulah
Penguasa dan Pemiliknya.” (HR. Muslim).[11]
Dengan qalbu serta jiwa yang bersih dan
bertakwa, akan tercapailah maksud diciptakannya manusia. Yaitu hanya beribadah
dan menyembah kepada Allah saja.
Allah berfirman:
$tBur àMø)n=yz
£`Ågø:$#
}§RM}$#ur wÎ)
Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya:
“Aku tidak menciptakan
jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (menyembah) kepada-Ku.” (Qs.
adz-Dzaariyaat: 56).
Penyucian jiwa dan qalbu yang merupakan pangkal bagi
lahirnya akhlak mulia, adalah unsur penting bagi berlangsungnya kekuatan serta
kewibawaan suatu bangsa.[12]
Dan itu merupakan salah satu tugas utama yang karenanya Allah 'Azza wa
Jalla mengutus Nabi-Nya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam juga bersabda,
أخرجه البخاري فى
الأدب
(صَالِحَ: وَفِى رِوَايَةٍ) اْلأَخْلاَقِ إِنَّمَا
بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ.
المفرد والحاكم
وغيرهما
Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia (dalam riwayat lain: yang shalih)." Hadits Shahih yang
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam
al-Hakim dan lain-lain.[13]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Allah
SWT Memberikan potensi kepada manusia yaitu mampu membedakan yang mana kebaikan (kebajikan) dan mana kejahatan
(keburukan), serta beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya dan
meriugilah orang yang mengotorinya.
Apa yang ditegaskan oleh Allah SWT
tentang keniscayaan hari kiamat mestinya disambut dengan pembanaran oleh seluruh
mahluk, tetapi ada yang enggan percaya ( Tidak Mengakuinya).
Seperti yang telah dijelaskan bahwa Al-Qur’an
memperkenalkan tiga macam tingkatan nafsu manusia yaitu:
v Pertama,
An-nafs al-ammarah yakni yang selalu mendorong pemiliknya berbuat keburukan.
v Kedua,
An-nafs al-lawwamah yang selalu mengecam pemiliknya begitu dia melakukan
kesalahan, sehingga timbul penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulanginya
lagi,
v Ketiga
An-nafs al-muthma’innah, yakni jiwa yang tenang karena selalu mengingat Allah
dan jauh dari perbuatan dosa.
B.
Saran
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini
masih banyak ditemukan kekurangan-kekurangan, untuk itu kepada dosen
pembimbing, teman-teman serta yang membaca makalah ini, kami sangat berharap
kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah kami kedepannya.
[1] T.M, Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof.Dr.
Tafsir Al-qur’anul Majid, An-Nur (Semarang: Pustaka Riski
Putra, 2000), hlm. 4607
[2]
Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an,
Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.15, hal...297-299
[3] Ibid,
hal…301
[4] Dr.
Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu
Katsir, Jilid 6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010). Hal…598-600
[5] Maksudnya: bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia
tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.
[6]
Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an,
Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.14, hal...623-624
[7] Ibid,
hal…624-626
[8]
M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,pesan,kesan dan keserasian Al-Qur’an (Jakarta
:Lentera Hati) hal 481-482.
[9] Dr.
Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu
Katsir, Jilid 6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010). Hal…402-403
[10]
Al-Hilaly, Salim bin 'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus,
KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal… 15
[11]
An-Nawawi, Shahih
Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq: Khalil Ma'mun Syiha, Dar
al-Ma'rifah, cet. III, 1417 H/1996 M, XVII/43, no. hadits: 6844.
[12] Al-Hilaly, Salim bin 'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus,
KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal… 21
[13] Hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh al-Albani dll, lihat Al-Adab al-Mufrad karya Imam
al-Bukhari, bi takhrijat wa ta'liqat: Syaikh al-Albani, Daar
ash-Shiddiq, Jubail, KSA, cet. II, 1421 H/2000 M, hal. 100-101, no. 273. Lihat
pula Silsilah Shahihah, no. 45.
DAFTAR PUSTAKA
T.M,
Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof.Dr. Tafsir
Al-qur’anul Majid, An-Nur (Semarang: Pustaka Riski Putra, 2000)
Sihab, M. Quraish. Tafsir
Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati,
2002, vol.15.
Dr. Abdullah bin
Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid
6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010).
Sihab, M. Quraish. Tafsir
Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati,
2002, vol.14.
Imam Jalaluddin
Al-Mahalli, As-Suyuti,Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul,
(Bandung Sinar Baru 2003) Jilid 1.
Al-Hilaly, Salim bin
'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus, KSA, Dar Ibnu
Affan, cet. I, 1412 H/1992 M.
An-Nawawi, Shahih
Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq: Khalil Ma'mun Syiha, Dar
al-Ma'rifah, cet. III, 1417 H/1996 M.
Langganan:
Postingan (Atom)