Jumat, 04 Agustus 2017
Jurnal STRATEGI GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA NEGERI 1 KUTA COT GLIE
STRATEGI GURU PAI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA NEGERI 1 KUTA COT GLIE
1Haris Wandi 2Mujiburrahman 3Anton
Widyanto
1Mahasiswa
Prodi PAI
FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh
2Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry
3Dosen
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Penelitian
ini adalah terkait dengan strategi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie. Penelitian yang penulis gunakan yaitu penelitian
lapangan (field Research). Data dikumpulkan melalui lembar observasi,
wawancara dan Dokumentasi. penelitian ini menggunakan metode
penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan strategi
guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie yang digunakan adalah melalui metode ceramah, diskusi serta
mencontohkan akhlak. Pembelajaran dilakukan
secara bervariasi selama alokasi waktu yang tersedia, tidak monoton dan
membosankan. Bentuk-bentuk motivasi yang diberikan oleh guru
yaitu motivasi dari luar diri siswa yang diberikan dengan menggunakan cerita,
yakni menceritakan sejarah. Guru mengarahkan siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam proses
belajar mengajar. Berdasarkan hasil observasi kendala-kendala yang dihadapi guru PAI
disekolah SMA Negri 1 Cot Glie terkait dengan penguasaan media pembelajaran disebabkan kurang
media yang terdapat pada sekolah tersebut.
Metode pembelajaran jarang sekali memadukan dengan metode-metode yang lain dan
cenderung hanya
menggunaka metode ceramah.
Kata Kunci: Strategi Guru PAI, Motivasi, Belajar.
Abstrack
This research is related to
the strategy of Islamic Religious Education teachers in improving students'
motivation to study SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie. The research that the authors
use is field research (field Research). Data were collected through observation
sheets, interviews and documentation. This research uses descriptive
qualitative research method. The results showed that the strategy of Islamic
Religious Education teachers in improving students' learning motivation SMA
Negeri 1 Kuta Cot Glie used is through lecture method, discussion and exemplify
morals. Learning is done variably over time allocations that are available, not
monotonous and boring. The forms of motivation given by the teacher is the
motivation from outside the students self given by using the story, that is
telling history. The teacher directs the students to improve their ability in
teaching and learning process. Based on the observation of the constraints
faced by teachers of Islamic Religious Education at SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie
related to mastery of learning media caused less media contained in the school.
Learning methods rarely integrate with other methods and tend to use only
lecture methods.
Keyword : Teacher
Strategy of Islamic religious education, Motivation, Learning
مستخلص البحث
ويرتبط هذه الدراسة مع استراتيجية معلمي التربية الإسلامية في تحسين طالب
الدولة الدافع
المهد .... استخدام الكتاب بحوث مجال البحوث. وقد كوتا ١ العليا
الثانوية المدرسة في
تم جمع البيانات من خلال أوراق الملاحظة والمقابلة والوثائق. يستخدم هذا البحث
أساليب
البحث النوعي وصفية. أظهرت النتائج الاستراتيجية لمعلمي التربية الإسلامية في تحسين
الدافع طالب المدرسة المتوسطة في مدرسة ١كوتا المهد كّليّ. المستخدمة من خلال المحاضرات
والمناقشات، ويجسد شخصية. تعلم يتم يختلف ضمن الوقت المخصص متوفرة، لا رتابة ومملة.
أشكال الدوافع التي قدمها المعلم هو الدافع من خارج الطالب الحصول عليها مع القصة التي
تحكي التاريخ. المعلمين يؤدي الطلاب على تحسين عملية التعلم. واستنادا إلى رصد المعوقات
التي معلمي التربية الإسلامية في مدرسة المدرسة الثانوية العليا ١ كوتا المهد كّليّ. المرتبطة مع وسائل الإعلام إتقان التعلم الناجمة
عن نقص وسائل الاعلام الواردة في المدرسة التي تواجهها. طريقة التعلم نادرا ما تتحد
مع غيرها من الأساليب وتميل إلى جعل فقط استخدام أسلوب المحاضرة.
كلمات البحث: الإسلامية الدينية استراتيجيات المعلم والتعليم، والدافع،
والتعلم
A.
PENDAHULUAN
Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar,
setiap guru akan menghadapi berbagai masalah yakni masalah yang dapat
dikelompokkan atas masalah pembelajaran dan masalah peranan guru sebagai
motivator, misalnya tujuan pembelajaran tidak jelas, media pembelajaran tidak
sesuai. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan sosok guru
yang profesional, dimana guru yang profesional adalah guru yang tidak hanya
menguasai prosedur dan metode pengajaran, namun juga sebagai motivator yang
kondusif. Dalam motivasi yang kondusif diharapkan mampu meningkatkan kualitas
pembelajaran.
Guru merupakan tenaga professional yang
memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual dan harus mengetahui
hal-hal yang bersifat teknis terutama hal-hal yang berupa kegiatan mengelola
dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (pembelajaran). Dalam pendidikan
guru dikenal adanya pendidikan guru berdasarkan kompetensi dengan sepuluh
kompetensi guru yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru yaitu
yang meliputi: menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola
kelas, menggunakan media/sumber, menguasai landasan pendidikan, mengelola
interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa untuk kepentingan
pengajaran, mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan,
mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah serta memahami
prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.[1]
Hal tersebut dianggap penting karena untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran yang tinggi maka harus melalui motivasi yang
baik. Pada saat pengelolaan proses belajar mengajar disadari atau tidak
disadari setiap guru menggunakan pendekatan dan menerapkan teknik-teknik
motivator. Strategi yang biasa digunakan antara lain: memberikan nasihat,
teguran, larangan, ancaman, teladan, hukuman, perintah dan hadiah. Selain itu
ada guru yang memotivasi siswa dengan cara yang ketat yakni mengandalkan sikap
otoriter tanpa memperhatikan kondisi emosional siswa dan ada pula yang
membiarkan siswa secara penuh berbuat sesuka hati.
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi
merupakan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin
kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan
dapat tercapai. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa motivasi sangat penting
dalam proses pembelajaran hal ini disebabkan oleh seseorang yang tidak memiliki
motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.[2]
Karena belajar itu suatu proses yang timbul dari dalam, maka motivasi memegang
peranan penting. Jika guru atau orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada
anak-anak, maka timbullah dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik.[3]
Realitas dilapangan membutikan bahwa siswa SMA
Negeri 1 Kuta Cot Glie, minatnya kurang dalam belajar Pendidikan Agama Islam
sehingga berdampak pada keberhasilan siswanya. Hal ini dibuktikan dengan nilai
rata-rata untuk program kelas IPS dibawah standar yaitu 50-70, sedangkan nilai
keriteria ketuntasan minimal (KKM) di sekolah ini untuk program IPS adalah 76,
dan sekolah ini masih menggunakan kurikulum KTSP; siswanya lebih senang terhadap
praktek dibandingkan dengan belajar teori.[4]
B.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang penulis gunakan yaitu
penelitian lapangan (field Research) yakni penelitian yang pengumpulan
datanya dilapangan pada saat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam ataupun diluar
pembelajaran. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
kualitatif, yakni penelitian yang bertujuan untuk mengangkat fakta, keadaan,
variabel dan fenomena-fenomena yang tejadi ketika penelitian berlangsung dan
menyajikan apa adanya. Adapun teknik pengumpulan datanya yaitu melalui
wawancara, observasi dan dokumentasi.
Adapun langkah-langkah pemeriksaan data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Membandingkan data hasil pengamatan terkait denganstrategi guru PAI dalam meningkatkan
motivasi belajar siswa SMAN I Kuta Cut
Glie dengan hasil wawancara guru
PAI.
b. Membandingkan hasil wawancara
guru PAI dengan hasil pengamatan saat pelaksanaan pembelajaran, strategi guru PAI dalam meningkat motivasi belajar siswa SMAN I Kuta Cot Glie (dalam hal ini melalui observasi/pengamatan).
C.
HASIL PENELITIAN
Analisis hasil Penelitian lapangan yang peneliti
lakukan di SMA Negeri 1 Kuta Cot Glie dengan lembaran observasi yang disiapkan
dengan mengacu kepada 15 pertanyaan yang telah disediakan yaitu sebagai
berikut:
a.
Strategi
dalam Pembelajaran
1. Pembelajaran dilakukan secara bervariasi selama
alokasi waktu yang tersedia, tidak monoton dan membosankan.
Pada setiap kelas yang ada, dari
kelas X sampai dengan kelas XII pembelajaran yang dilakukan tidak secara
bervariasi selama alokasi waktu yang tersedia, tidak monoton dan
membosankan. Pembelajaran yang dilakukan
hanya menggunkan metode ceramah tidak memperpadukan berbagai macam metode yang
ada. Jadi dapat dikatakan denga lembaran
observasi pertanyaan pertama, tidak dapat membangkitkan gaira motivasi belajar
siswa. Seharusnya pembelajaran dilakukan secara bervariasi menggunakan metode
yang berbeda-beda sesuai dengan materi yang ada.
2. Guru mendemonstrasikan Ilustrasi dan contoh dipilih
secara hati-hati sehingga benar-benar efektif
Pada pernyataan ini guru PAI tidak
mendemonstrasikan Ilustrasi dan contoh dipilih secara hati-hati sehingga
benar-benar efektif. Pembelajaran tidak nampak efektif hanya dengan melakukan
metode ceramah saja, sehingga pembelajaran tidak sesuai ketercapaian yang
diinginkan.
3. Selama proses pembelajaran guru memberikan kesempatan
untuk bertanya kepada siswa.
Dari kelas X sampai XII Dalam
pembelajaran guru selalu memberikan pelung kepada siswa dalam menyampaikan
pertanyaan sehingga pembelajaran dapat dikatakan efektif ketika siswa aktif
didalam kelas. pada pernyataan ini dapat dikatakan pembelajaran tidakhanya
berpusat pada guru melainkan siswa ikut andil didalamnya.
4. Jika ada siswa yang bertanya, guru memberikan
kesempatan kepada siswa lain untuk menjawab sebelum guru menjawab.
Pada tahap pernyataan ini guru
berbada disetiap kelasnya seperti contohnya pada kelas X guru tidak memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari siswa lain, melainkan
lansung menjawab pertanyaan yang ada. Sedangkan pada tingkat kelas XI dan XII
guru memberikan kesempatan bagi para siswa untu menjawab pertanyaan dari
temannya sebelum guru menguatkan hasil jawaban yang diberikan siswa.
5. Guru menciptakan metode
mengajar dimana para siswa bisa saling bekerja sama.
Dalam pernyataan ini
guru berbeda dalam memberikan pembelajaran, pada kelas X dan kelas XII guru
menggunakan metode dalam pembelajaran pembelajaran, sehingga para siswa dapat
saling bekerja sama dalam pembelajaran yang sedang berlansung. Sedangkan pada
kelas XI IPA dan IPS, guru tidak menggunakan metode yang bervariasi hanya
menggunakan metode biasa pada umumnya yaitu metode ceramah. Pembelajaran hanya
perpusat pada guru, dan sehingga siswa tidak bisa saling bekerja sama.
Pernyataan lembaran observasi Strategi dalam Pembelajaran,di dalam pembelajaran dalam lima pernyataan
di atas, guru masih kurang dalam strategi mengajar dapat diliat dengan hasil
pernyaataan yang peneliti lakukan dengan lembaran observasi yang dilakukan pada
setiap kelas. Hanya setenga dari pernyataan saja yang dapat dicapai dalam
menerapkan strategi pembelajaran PAI.
b.
Motivasi dalam pembelajaran
motivasi itu adalah sesuatu yang ada dalam diri seseorang, yang
mendorong orang tersebut untuk bersikap dan bertindak guna mencapai tujuan
tertentu. Motiv dapat berupa kebutuhan dan cita-cita.
Bentuk motivasi dalam pembelajaran yang diberikan guru
PAI, dalam hal ini peneliti telah menyiapkan lima pernyataan yaitu sebagai
berikut:
1. Guru mengarahkan siswa
untuk meningkatkan kemampuan dalam proses belajar.
Dalam
pernyataan pertama guru PAI, di semua kelas X sampai dengan kelas XII, guru
mengarahkan siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam peroses belajar.Dapat
dikatakan berhasil dan sesuai dengan pernyataan yang telah disediakan peneliti
dalam kategori memotivasi siswa dalam belajar.
2. Guru memberikan latihan kepada siswa sesuai dengan
minat siswa
Dalam
memberikan latihan di semua jenjang kelas X sampai XII guru PAI tidak
memberikan latihan sesuai dengan minat siswa, guru memberikan latihan apa
adanya yang ia anggap perlu menunjang hasil yang diingikan guru, tidak terlihat minat siswa untuk mengerjakan latihan yang
diinginkannya.
3.
Guru selalu
bersikap terbuka dan tidak menganggap negatif apabila siswa melakukan
kesalahanan dalam proses belajarnya.
Apabilah siswa melakukan kesalahan
guru tidak lansung bersikap negatif kepada siswa misalnya dalam hal siswa
memberikan tanggapan pertanyaan dari guru maupun temannya, guru tidak lansung
mengatakan salah kepaada siswa yang memberikan tanggapan tersebut melainkan
memberikan apresiasi kepada siswa karena telah berani mengungkapkan apa yang
siswa anggap benar. Dalam hal kesalahan lainnya guru tidak lansung menghukum
siswa melainkan menegur siswa yang melakukan kesalahan, disemua kelas X sampai
XII guru selalu bersikap terbuka kepada siswanya.
4.
Guru memberikan apresiasi bagi siswa yang menunjukan kelakuan
dan kinerja yang baik.
Bagi
siswa yang aktif dalam pembelajaran guru memberikan apresiasi untuk memotivasi
siswa lainnya agar dapat aktif juga dalam pembelajaran, misalnya guru
memberikan rewad bagi siswayang
menunjukan kinerja yang baik. Guru melakukannya disemua kelas X sampai XII.
5.
Guru mengarahkan siswa yang memiliki minat belajar yang
datang dari dalam dirinya sendiri.
Disemua
kelas dalam pembelajaran PAI guru selalu mengarakan siswa myang memiliki minat
belajar yang datang dari siswa, senada dengan pernyaatan sebelumnya guru selalu
terbuka kepada siswa dan selalu memberikan apresiasi kepada siswa yang aktif
dan semangat dalam pembelajaran.guru dalam setiap kelas X sampai XII dalam
pembelajaran selalu mengarakan siswa yang memiliki minat belajar.
Sterategi guru PAI
dalam memberikan motivasi kepada siswa sangat membantu siswa untuk lebih giat
dalam belajar ini termasuk dalam motivasi ekstrinsik
yaitu: motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari
luar.
c. Kendala
Dalam Pembelajaran
1.
Dalam proses
belajar mengajar guru lebih banyak menggunakan metode ceramah
Dalam proses belajar mengajar guru
selalu menggunakan metode bisasa pada umumnya yaitu metode ceremah jarang
sekali memperpadukan metode-metode yang ada misalnya seperti kerja kelompok,
diskusi, eksperimen dan lain sebagainya. Kendala yang dihadapi guru kurangnya
mengetahui beberapa metode yang ada. Guru dalam pembelajaran disetiap kelas X
sampai XII menggunakan metode ceramah.
2.
Guru tidak
memakai media dalam proses pembelajaran.
Kendala lainnya pada setiap kelas X sampai XII kurangnya media yang
terdapat pada sekolah sehingga tidak tercapainya proses belajar-mengajar yang
memadai disebabkan guru hanya menyampaikan saja tampa ada alat bantu media yang
menunjang proses beajar mengajar.
3.
Guru tidak
mahir dalam menggunakan media pembelajaran.
Dalam menggunakan metode guru juga
kurang mahir disebabkan tidak adanya pelatihan guru yang memadai dan sangat
minim media yang ada pada sekolah tersebut, guru yang terdapat di SMA Negri 1
Kuta Cot Glie hanya berjumlah satu orang saja.
4.
Guru tidak
memperhatikan dan menegur siswa yang ribut ketika pelajaran berlangsung.
Guru juga jarang memperhatikan dan
menegur siswa yang rebut ketika pembelajaran berlansung, guru membiarkan saja
jarang sekali menegur siswa yang rebut ketika didalam kelas. hasil lembaran
observasi guru hanya menegur siswa pada kelas XII. Di kelas lainnya guru kurang
memperhatikan hanya focus kepada siswa yang aktif saja.
5.
Guru
mengabaikan siswa yang bertanya.
Didalam setiap kelas
dalam proses belajar guru tidak mengabaikan siswa yang bertanya maupun yang
memberi apresiasi tanggapannya, guru mengarakan siswa yang ingin menyampaikan
pendapatnya disetiap kelas X ampai XII IPA dan IPS. Sehingga tidak terdapat
kendala bagi siswa yang ingin menyampaikan pendapatnya.
Kendala-kendala yang
dihadapi guru PAI disekolah SMA Negri 1 Cot Glie hanya terdapat kurangnya
menguasai media pembelajaran disebabkan kurang media yang terdapat pada sekolah
tersebut, dalam penguasaan metode pembelajaran jarang sekali memperpadukan
metode yang ada hanya menggunaka metode ceramah saja.
D.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi yang digunakan guru PAI dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa adalah melalui metode ceramah, diskusi serta mencontohkan akhlak. Bentuk motivasi yang diberikan oleh guru PAI
yaitu motivasi ekstrinsik (motivasi yang diransag dari luar diri siswa) yang
diberikan dengan menggunakan cerita. Yaitu menceritakan kisah-kita perjuangan Rasulullah
dan sahabatnya. Contoh tersebut digunakan sebagai cara untuk membangkitkan semangat
belajar siswa. Kendala yang dihadapi guru PAI dalam proses belajar
mengajar adalah
kurangnya sarana prasarana
yang terdapat di sekolah,
seperti media pembelajaran, buku paket untuk pegangan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2007).
http://www.bruderfi.or.id./h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa-html. Diakses pada
Tanggal 24 April 2016.
Abdul
Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam,
(Jakarta: Kencana, 2009).
[1]Sardiman, Interaksidan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2007), hal. 162.
[2]http://www.bruderfi.or.id./h-129/peran-guru-dalam-membangkitkan-motivasi-belajar-siswa-html. Diakses pada Tanggal 24 April 2016.
[3]Abdul Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar
Dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 223.
Langganan:
Postingan (Atom)