Rabu, 15 Februari 2017

Tafsir Ayat-Ayat Tentang Ayat-Ayat Psikologi

KATA PENGANTAR

  • Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadiran allah swt. karena dengan qudrah dan iradah-nyalah kami telah dapat menyelesaikan makalah ini, yang berjudul “Tafsir Ayat-Ayat Tentang Ayat-Ayat Psikologi”.        
  • Shalawat dan salam kami  hantarkan kepangkuan Nabi besar yaitu nabi Muhammad  SAW beserta sahabatnya yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang dan dari alam kebodohan menuju alam yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
  • Adapun dari pada itu dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak keselahan dan kejanggalan. Oleh karena itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sangat saya harapkan demi kesempurnaan dimasa yang akan datang, sebagai harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami sendiri, dan umumnya bagi kita semua.
Banda Aceh,  19 Mei  2014


Penyusun




DAFTAR ISI
           
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang........................................................................................ 1
B.     RumusanMasalah................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Tafsir surat Asy-Syams ayat 7-10.......................................................... 2
B.     Tafsir surat Al-Qiyamah Ayat 1-6 ................................................. ....... 7
C.     Tafsir surat yusuf Ayat 53 .................................................................. 10
D.    Tafsir surat Al-Ma’arij ayat 19-26 ....................................................... 12
E.     Tujuan Pembersihan Jiwa ..............................................................       14
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.......................................................................................... 17
B.     Saran ................................................................................................... 17
DARTAR PUSTAKA.......................................................................................... iii


 BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Walaupun proyek rekontruksi islami pada kajian psikologi bukan sekedar mengumpulkan ayat-ayat dan hadist Rasulullah yang mengulas tentang jiwa manusia, ataupun mengumpulkan penjelasan yang banyak ditulis ditulis buku-buku tafsir dan hadist, namun kita tetap membutuhkan semuanya itu untuk menentukan batasan ilmu pengetahuan dan batasan definisi manusia, sehingga menjadikan proyek inipun selaras dengan penafsiran ilmiah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist Rasulullah.
Barang siapa yang ingin mengetahui sikap Al-Qur’an dan sunnah terhadap proyek rekontruksi islami pada kajian psikologi, maka ia harus bisa memahami penafsiran keduanya dengan penafsiran ilmiah disini bukan penafsiran menurut bahasa, yakni salah satu jenis penafsiran yang apabila semua syaratnya terpenuhi maka ia disebut penafsiran ilmiah. Yang dimaksud disini adalah penafsiran yang dapat dipahami olek khalayak umum.

B.                 Rumusan Masalah
1.      Tafsir Surat Asy-Syams Ayat 7-10
2.      Tafsir surat Al-Qiyamah 1-6
3.      Tafsir Surat Yusuf Ayat 53
4.      Tafsir Surat Al-Ma’arij Ayat 19-26
5.      Tujuan Pembersihan Jiwa.



BAB II
PEMBAHASAN
A.                Tafsir Surat Asy-syams Ayat 7-10
1)            Teks Ayat
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ   $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ   ôs% yxn=øùr& `tB $yg8©.y ÇÒÈ   ôs%ur z>%s{ `tB $yg9¢yŠ ÇÊÉÈ  
2)            Mufradat / kosa kata surat Asy-Syams 7-10

Barang Siapa                           =       `tB
Mensucikannya (jiwa itu)        =  $yg8©.y
Dan Sesungguhnya                 =     s%ur
Merugilah                                >%s{
Mengotori (jiwa) nya.              = $yg9¢yŠ

Dan demi jiwa                  =     وَنَفْس
Serta penyempurnaannya     =وَمَاَ سَوَّاهَا                       
Maka Allah mengilhamkan  =    $ygyJolù;r'sù
Kefasikan                       =   $yduqègéú
Ketakwaan                     =      اqø)s?ur
Sesungguhnya beruntunglah =    قَدْأَفْلَح

3)            Terjemahan
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S Asy-Syams: 7-10)


4)            Tafsir Ayat
Tafsir An-Nur
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا = “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)”.
Allah bersumpah dengan jiwa yang telah diberi berbagai macam kekuatan dan berbagai naluri, yang dengan kekuatan-kekuatan dan insting(naluri) itulah jiwa memperoleh kesempurnaan hidup.
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا = Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”
Allah mengilhamkan kepada jiwa-jiwa tentang sebab-sebab kebinasaan dan kerugian serta sebab-sebab yang bisa dipergunakan untuk menyelamatkan jiwa dari kebinasaan. Tegasnya, Allah memberi akal kepada manusia yang dapat dipergunakan untuk membedakan antara kebajikan dan kejahatan serta diberi kesanggupan berbuat maksiat yang membinasakan dan kesanggupan berbuat kebajikan yang melepaskannya dari azab neraka.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا =“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,”
Orang yang menyucikan jiwanya dan menyuburkan rohaninya, serta memanjatkan jiwanya kepada kesempurnaan. Itulah orang yang memperoleh kemenangan.
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا  = “dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Orang yang mencampakkan dirinya kedalam kebinasaan dengan mengerjakan kemaksiatan dan menjauhi kebajikan serta kebaktian, itulah orang yang merugikan dirinya.[1]
Tafsir Al-Misbah
Allah melanjutkan sumpah-Nya dengan mengingatkan tentang jiwa manusia-dan inilah yang dituju-agar menyadari dirinya dan memperhatikan mahluk yang disebut oleh ayat-ayat yang lalu. Allah berfirman: Dan Aku juga bersumpah Demi jiwa manusia serta penyempurnaan cipataan-Nya. Hingga mampu menampung yang baik dan yang buruk lalu Allah mengilhami yakni member potensi dan kemampuan bagi bagi jiwa itu untuk menelusuri jalan kedurhakaan dan ketaqwaannya.tersera kepada-Nya yang mana diantar keduanya yang dipilih serta diasah dan diasuhnya.
Kata (فَأَلْهَمَهَا ) fa alhamaha terambil dari kata (  اللَّهْم) Al- lahm yakni menelan sekaligus. Dari sini lahir kata ( الهام )  Ilham. Memang ilham atau intusi dating secara tiba-tiba tanpa disertai analisis sebelumnya, bahkan kadang-kandang tidak terfikirkan sebelumnya. kedatangannya bagaikan kilat dalam sinar dan kecepatannya, sehingga manusia tidak dapat menolaknya, sebagaimana tak dapat pula mengundang kehadirannya. Potensi ini ada pada setiap insane, walaupun peringkat dan kekuatannya berbeda antara seseorang dengan orang yang lain.
Ibn ‘Asyur memehami kata Alhama dalam arti anugerah Allah yang menjadikan seseorang memahami pengetahuan yang mendasar serta menjangkau hal-hal yang bersifat aksioma bermula dengan keterdorongan naluriah kepada hal-hal yang bermanfaat, hingga mencapai tahap awal dari kemampuan meraih pengetahuan yang bersifat Akliah.
Thabathaba’i menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “mengilhami jiwa” adalah penyampaian Allah kepada manusia tentang sifat perbuatan apakah dia termasuk ketakwan atau kedurhakaan, setelah memperjelas perbuatan dimksud dari sisi subtansinya sebagai perbuatan yang dapat menampung ketakwaan atau kedurhakaan.
Sayyid Quthub menulis bahwa manusia adalah makhluk dwi dimensi dalam tabiatnya, potensinya dan dalam kecenderungan arahnya. Ini karena ciri penciptaannya sebagai mahluk yang tercipta dari tanah dan hembusan ruh dari Ilahi, menjadikannya memiliki potensi yang sama dalam kebajikan dan keburukan, petunjuk dan kesesatan. Manusia mampu membadakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau keburukan dalam kadar yang sama.[2]
Ulama memahami ayat diatas dalam Arti, “telah beruntunglah manusia yang disucikan jiwanya  oleh Allah dan merugilah orang yang dia dibiarkan Allah berlarut dalam pengotoran jiwanya.”[3]
Tafsir Ibnu Katsir
Firman Allah : (وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَاdan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya)”. Yakni penciptaannya yang sempurnah lagi tegak pada fitrah yang lurus. Sedangkan firman-Nya : (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا )Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,” yakni Dia mengarahkan kepada kekejian dan ketakwaan. Artinya, Dia menjelasan kepadanya seraya menunjukkan kepada apa yang ditakdirkan untuknya. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Dia (Allah) menjelaskan yang baik dan yang buruk kepadanya.
Firman Allah Ta’alah: ( وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا .قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ) “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, “dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” Ada kemungkinan hal itu berarti beruntunglah orang yang menyucikan dirinya, yakni dengan mentaati Allah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Qatada, dan membersihkannya dari akhlak tercelah dan berbagai hal yang hina.
Beruntunglah orang yang disucikan jiwanya oleh Allah SWT dan merugilah orang-orang  yang dibuat kotor oleh-Nya. Imam Ahmad diriwayatkan dari zaid bin Arqam, dia berkata: “Rasulullah SAW. Telah Bersabda:
(( اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ, وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا, وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُوْ مَنْ زَكَّاهَا, أَنْتَ وَلِيُهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اِنّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ لَا تَشْبَعُوْ وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُوْ وَدَعْوَةٍ لَا يُشْتَجَابُ لَهَا. ))
Artinya:
“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, juga ketuaan, pengecut, kikir dan adzab kubur. Ya Allah, Berikanlah ketakwaan pada jiwaku dan suciknlah, sesungguhnya Engkau sebaik-baik Rabb yang menyucikannya, Engkau pelindung sekaligus penguasa. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’ dan dari jwa yang tidak pernah merasa puas, juga ilmu yang tidak bermanfaat serta do’a yang tidak dikabulkan.”
Zaid berkata: “Rasulullah SAW pernag mengajarkan Do’a itu kepada kami dan kami pun mengajarkannya kepada kalian.” Diriwayatkan oleh Muslim. [4]
B.                 Tafsir surat Al-Qiyamah 1-6
1.            Teks Ayat
Iw ãNÅ¡ø%é& ÏQöquÎ/ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ÇÊÈ   Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ   Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ   4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ   ö@t/ ߃̍ムß`»|¡RM}$# tàføÿuÏ9 ¼çmtB$tBr& ÇÎÈ   ã@t«ó¡o tb$­ƒr& ãPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ÇÏÈ
2.            Mufradat / kosa kata surat Al-Qiyamah 1-6

Mengumpulkan             =             ìyJøgªU
Besi                               =           mtB$sàÏã
Kami berkuasa             =           tûïÍÏ»s%
Hari kiamat                   =    ÏpyJ»uŠÉ)ø9$#ãPöqtƒ

Aku bersumpah             =         NÅ¡ø%é&w
Dengan jiwa                     =       بِالنَّفْسِ
Menyesali                            =          اللَّوَّامَةِ
Mengira                         =        =|¡øtsr&

3.            Terjamahan Ayat
Aku (Allah) bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri)[5], Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?, bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna, bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus, ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?. (Q.S. Al-Qiyamah: 1-6)
4.            Tafsir Ayat
Iw ãNÅ¡ø%é& ÏQöquÎ/ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ÇÊÈ   Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ  
“Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri)”
Kata ( w ) la pada awal ayat diatas ada yang memahami sebagai sisipan yang berfungsi menguatkan kata sesudahnya yaitu “aku bersumpah” juga ada yang memahaminya dalam Arti tidak. Disini ada yang berpendapat bahwa kata tidak berkaitan dengan kata sesudahnya sehingga ia berarti: “aku tidak bersumpah” dan ada juga yang memahaminya sebagai menafikan kata yang tersirat dalam benak. Seakan-akan menyatakan: tidak! Bukan seperti apa yang kamu duga. Aku bersumpah demi hari kiamat.
Kata (pB#لوّ) lauwwamah terambil dari kata ( لام ) lama yang berarti mengecam diri sendiri.
Jiwa yang menyandang sifat ini, berada diantara dua jiwa lainnya yaitu (المطمئنّة) Al-muthma’innah yakni yang selalu patuh kepada tuntunan Ilahi dan merasa tenang dengan-Nya, dan ( الأمارة ) Al-ammarah yakni yang selalu durhaka dan mendorong pemiliknya untuk membangkang perintah-Nya dan mengikuti nafsunya. Lauwwamah adalah Yang menyesal dan mengecam dirinya jika melakukan kesalahan.[6]
Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ   4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ  
“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?, bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”
Apa yang ditegaskan oleh ayat yang lalu tentang keniscayaan hari kiamat mestinya disambut dengan pembanaran oleh seluruh mahluk, tetapi ada yang enggan percaya.
Memahami ayat diatas dalam makna tersebut sangat jauh dari konteknya yang pada dasarnya adalah bantahan kepada kaum musyrikin yang mengingkari  kuasa Allah membangkitkan tulang-tulang yang telah mati. Memang ayat diatas menggugah hati dan pikiran manusia untuk memperhatikan dirinya antara lain jari jemarinya, bagaimana Allah menciptakannya demikian istimewa.
ö@t/ ߃̍ムß`»|¡RM}$# tàføÿuÏ9 ¼çmtB$tBr& ÇÎÈ   ã@t«ó¡o tb$­ƒr& ãPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ÇÏÈ  
“Bahkan manusia hendak membuat maksiat terus menerus., ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?".
Sebenarnya keniscayaan hari kiamat sudah demikian jelas, sehingga Allah tidak  perlu bersumpah tentang keniscayaannya. Manusia bukannya mengirah bahwa Allah tidak berkuasa mewujudkannya, bahkan yakni tetapi menusia hendak melampiaskan hawa nafsunya Agar ia terus menerus melakukan kedurhakaan / berbuat kemaksiatan terus menerus. Karena sifat buruk tersebut telah demikian mantap pada kepribadiannya, atau sebagai bukti kedurhakaannya maka ia bertanya dengan tujuan mengejek: Bilakah terjadinya hari kiamat. Demikian Al-Biqa’I menghubungkan dan memahami ayat-ayat diatas.[7]

C.                Tafsir Surat Yusuf Ayat 53
1.            Teks Ayat
!$tBur äÌht/é& ûÓŤøÿtR 4 ¨bÎ) }§øÿ¨Z9$# 8ou$¨BV{ Ïäþq¡9$$Î/ žwÎ) $tB zOÏmu þÎn1u 4 ¨bÎ) În1u Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÎÌÈ  
2.            Mufradat / kosa kata surat yusuf Ayat 53

Sesungguhnya Tuhanku          = În1u ¨bÎ)
Maha Pengampun                   = Öqàÿxî
Maha Penyanyang                   = ×LìÏm§

Diri (jiwa)                          =       ûÓŤøÿtR
Membebaskan                    =         Ìht/é&
Rahmat Tuhanku                = În1u  zOÏmu

3.            Terjemah Ayat
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q.S Yusuf : 53).
4.            Tafsir Ayat
Ayat ini adalah lanjutan yang lalu. Al-Biqai yang menilai ayat yang lalu merupakan ucapan Yusuf as. Berpendapat Yusuf lebih lanjut berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku  dari kesalahan apapun. Namun-walaupun demikian, aku bersukur bahwa aku dipelihara oleh Allah dan diberi-Nya taufik. Aku tidak menuntut-pembebasanku dari kesalahan sekadar untuk pembersihan namaku, karena sesungguhnya salah satu jenis nafsu manusia adalah nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan , kecuali pada waktu dirahmati oleh Tuhanku-menghalanginya atau kecuali dengan melindungi seseorang sehingga Allah swt menghalangi nafsunya atau ke-cuali apa yang dirahmati Allah dari jenis-jenis nafsu sehingga nafsu itu tidak memerintahkan  kepada kejahatan.
Adapun menurut Ibn Katsir, ayat ini adalah lanjutan ucapan istri al-Aziz yang menggoda Yusuf itu. Disini, setelah pengakuannya yang lalu dia melanjutkan bahwa “Aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan dan dosa karena nafsu selalu berbisik dan mengidam-idami. Karena nafsu yang demikian itu maka aku menggodanya. Istri al-Aziz berkata “Akulah yang mnyampaikan pada suamiku pada saat aku terperanjat (bertemu di pintu) dan ketika emosi aku memuncak bahwa, Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau siksa yang pedih? Sebenarnya tidak ada yang mendorong aku mengucapkannya kecuali hawa nafsu dan syahwat aku. Sesungguhnya nafsu manusia sangat banyak mendorong pemiliknya kepada keburukan kecuali jiwa yang dirahmati Allah dan dipelihara dari penyimpangan seperti halnya jiwa Yusuf.[8]
 Al-qur’an memperkenalkan tiga macam tingkatan nafsu manusia yaitu:
v  Pertama, An-nafs al-ammarah yakni yang selalu mendorong pemiliknya berbuat keburukan.
v  Kedua, An-nafs al-lawwamah yang selalu mengecam pemiliknya begitu dia melakukan kesalahan, sehingga timbul penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,
v  Ketiga An-nafs al-muthma’innah, yakni jiwa yang tenang karena selalu mengingat Allah dan jauh dari perbuatan dosa.


D.                Tafsir Surat Al-Ma’arij Ayat 19-26
1.            Teks Ayat
* ¨bÎ) z`»|¡SM}$# t,Î=äz %·æqè=yd ÇÊÒÈ   #sŒÎ) çm¡¡tB ޤ³9$# $Yãrây_ ÇËÉÈ   #sŒÎ)ur çm¡¡tB çŽösƒø:$# $¸ãqãZtB ÇËÊÈ   žwÎ) tû,Íj#|ÁßJø9$# ÇËËÈ   tûïÏ%©!$# öNèd 4n?tã öNÍkÍEŸx|¹ tbqßJͬ!#yŠ ÇËÌÈ   šúïÉ©9$#ur þÎû öNÏlÎ;ºuqøBr& A,ym ×Pqè=÷è¨B ÇËÍÈ   È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãósyJø9$#ur ÇËÎÈ   tûïÏ%©!$#ur tbqè%Ïd|ÁムÏQöquÎ/ ÈûïÏd9$# ÇËÏÈ  
2.            Mufradat / kosa kata surat Al-Ma’arij ayat 19-26

Hari pembalasan          =    ûïÏd9$#يَوْمَ
Mempercayai               =   tbqè%Ïd|Áãƒ
Amat kikir                   = $¸ãqãZtB çŽösƒø:$#
Sesungguhnya manusia   = z`»|¡SM}$# ¨bÎ)
Keluh kesah lagi kikir     =%·æqè=yd t,Î=äz
Ditimpa kesusahan           =       çm¡¡tB

3.            Terjemahan Ayat
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. (Q.S. Al-Ma’arij : 19-26)



4.            Tafsir  Ayat
Allah SWT berfirman seraya menceritakan tentang manusia dan akhlak tercelah yang diciptakan padanya. (( هَلُوعًا t,Î=äz z`»|¡SM}$# ¨bÎ) )) “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” Kemudian Dia menafsirkan melalui firmannya ini : (( $Yãrây_ޤ³9$# çm¡¡tB #sŒÎ) )) “Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” Maksudnya jika dia ditimpah oleh suatu hal yang menyusahkan, maka dia akan gusar dan mengeluh. Hatinya pun hancur karna rasa takut yang amat menyeramkan dan karena putus asa dari mendapat kebaikan. (( $¸ãqãZtBçŽösƒø:$#çm¡¡tB #sŒÎ)ur )) “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” Maksudnya, jia dia mendapat kenikmatan dari Allah, maka dia sangat kikir memberikannya kepada orang lain dan menolak memberikan hak Allah dari nikmat yang didapatkannya tersebut. Kemudian Allah taalah berfirman: (( tû,Íj#|ÁßJø9$#žwÎ) )) “Kecuali orang-orang yang mengerjakan Shalat.” Yakni, manusia dengan beberapa sifat tercelahnya, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah dan diberi taufiq serta hidayah menuju kebaikan dan juga diberi kemudahan untuk mendapatkannya, mereka itulah orang-orang yang mengerjakan Shalat. ((  tbqßJͬ!#yŠ öNÍkÍEŸx|¹ 4n?tã öNèd tûïÏ%©!$#  )) yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” Ada yang berpendapat, maknanya adalah mereka senantiasa memelihara waktu dan semua kewajiban shalat. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, Masruq dan Ibrahim Nakha’i.
Ada juga yang menyatakan, maksud (( tbqßJͬ!#yŠ)) disisni berarati tenang dan khusyu’. Seperti firman Allah Swt : (( الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ . قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ )) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya.”(Q.S. Al-Mu’minun:1-2). Demikian yang dikemukakan Oleh Uqbah bin ‘Amir.
Dan firman Allah Swt : ( (  ÏQrãósyJø9$#ur È@ͬ!$¡¡=Ïj9 . ×Pqè=÷è¨B A,ym   öNÏlÎ;ºuqøBr&  þÎû šúïÉ©9$#ur )) dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. Yakni, pada harta mereka terdapat yang telah ditetapkan bagi orang-orang yang membutuhkan.
Firman-Nya lebih lanjut: (( ÈûïÏd9$#ÏQöquÎ/ tbqè%Ïd|ÁムtûïÏ%©!$#ur )) dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan”. Yakni, meyakini hari kebangkitan, hisab, dan pembalasan. Mereka mengerjakan amal orang-orang yang mengharapkan pahala dan takut akan hukuman.[9]
E.                 Tujuan Pembersihan Jiwa
Tujuan pembersihan jiwa adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya, takwa hanya dapat terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa.  Sementara, kebersihan jiwa juga tidak dapat terjadi tanpa takwa. Jadi, keduanya saling terkait dan saling membutuhkan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Ÿxsù (#þq.tè? öNä3|¡àÿRr& ( uqèd ÞOn=÷ær& Ç`yJÎ/ #s+¨?$# ÇÌËÈ 
Artinya:
 “Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa.” (Qs. an-Najm: 32).
Serta firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
$pkâ:¨Zyfãyur s+ø?F{$# ÇÊÐÈ   Ï%©!$# ÎA÷sム¼ã&s!$tB 4ª1utItƒ ÇÊÑÈ 
Artinya:
Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya.” (Qs. al-Lail/92: 17-18).
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa pembersihan jiwa pada hakikatnya adalah ketakwaan kepada Allah.[10] Dan memang tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah.
Di sini perlu juga dipahami dengan baik sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berikut,
اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
( رواه مسلم )
Artinya:
Ya Allah! Anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkan jiwa. Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya.” (HR. Muslim).[11]
Dengan qalbu serta jiwa yang bersih dan bertakwa, akan tercapailah maksud diciptakannya manusia. Yaitu hanya beribadah dan menyembah kepada Allah saja.
Allah berfirman:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ 
Artinya:
 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (menyembah) kepada-Ku.” (Qs. adz-Dzaariyaat: 56).
Penyucian jiwa dan qalbu yang merupakan pangkal bagi lahirnya akhlak mulia, adalah unsur penting bagi berlangsungnya kekuatan serta kewibawaan suatu bangsa.[12] Dan itu merupakan salah satu tugas utama yang karenanya Allah 'Azza wa Jalla mengutus Nabi-Nya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda,
أخرجه البخاري فى الأدب (صَالِحَ: وَفِى رِوَايَةٍ) اْلأَخْلاَقِ إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ.
المفرد والحاكم وغيرهما
Artinya:
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat lain: yang shalih)." Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam al-Hakim dan lain-lain.[13]
BAB III
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Allah SWT Memberikan potensi kepada manusia yaitu mampu membedakan yang mana  kebaikan (kebajikan) dan mana kejahatan (keburukan), serta beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya dan meriugilah orang yang mengotorinya.
Apa yang ditegaskan oleh Allah SWT tentang keniscayaan hari kiamat mestinya disambut dengan pembanaran oleh seluruh mahluk, tetapi ada yang enggan percaya ( Tidak Mengakuinya).
Seperti yang telah dijelaskan bahwa Al-Qur’an memperkenalkan tiga macam tingkatan nafsu manusia yaitu:
v  Pertama, An-nafs al-ammarah yakni yang selalu mendorong pemiliknya berbuat keburukan.
v  Kedua, An-nafs al-lawwamah yang selalu mengecam pemiliknya begitu dia melakukan kesalahan, sehingga timbul penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,
v  Ketiga An-nafs al-muthma’innah, yakni jiwa yang tenang karena selalu mengingat Allah dan jauh dari perbuatan dosa.

B.                 Saran
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak ditemukan kekurangan-kekurangan, untuk itu kepada dosen pembimbing, teman-teman serta yang membaca makalah ini, kami sangat berharap kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah kami kedepannya.



[1] T.M, Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof.Dr.  Tafsir Al-qur’anul Majid, An-Nur (Semarang: Pustaka Riski Putra, 2000), hlm. 4607
[2] Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.15, hal...297-299
[3] Ibid, hal…301
[4] Dr. Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010). Hal…598-600
[5] Maksudnya: bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.
[6] Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.14, hal...623-624
[7] Ibid, hal…624-626
[8] M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,pesan,kesan dan keserasian Al-Qur’an (Jakarta :Lentera Hati) hal 481-482.
[9] Dr. Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010). Hal…402-403
[10] Al-Hilaly, Salim bin 'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus, KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal… 15
[11] An-Nawawi, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq: Khalil Ma'mun Syiha, Dar al-Ma'rifah, cet. III, 1417 H/1996 M, XVII/43, no. hadits: 6844.
[12] Al-Hilaly, Salim bin 'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus, KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal… 21
[13] Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dll, lihat Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, bi takhrijat wa ta'liqat: Syaikh al-Albani, Daar ash-Shiddiq, Jubail, KSA, cet. II, 1421 H/2000 M, hal. 100-101, no. 273. Lihat pula Silsilah Shahihah, no. 45. 




DAFTAR PUSTAKA
T.M, Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof.Dr.  Tafsir Al-qur’anul Majid, An-Nur (Semarang: Pustaka Riski Putra, 2000)
Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.15.
Dr. Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010).
Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.14.
Imam Jalaluddin Al-Mahalli, As-Suyuti,Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul, (Bandung Sinar Baru 2003) Jilid 1.
Al-Hilaly, Salim bin 'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus, KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M.

An-Nawawi, Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq: Khalil Ma'mun Syiha, Dar al-Ma'rifah, cet. III, 1417 H/1996 M.