KATA
PENGANTAR
- Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadiran allah swt. karena dengan qudrah dan iradah-nyalah kami telah dapat menyelesaikan makalah ini, yang berjudul “Tafsir Ayat-Ayat Tentang Ayat-Ayat Psikologi”.
- Shalawat dan salam kami hantarkan kepangkuan Nabi besar yaitu nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang dan dari alam kebodohan menuju alam yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
- Adapun dari pada itu dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak keselahan dan kejanggalan. Oleh karena itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sangat saya harapkan demi kesempurnaan dimasa yang akan datang, sebagai harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami sendiri, dan umumnya bagi kita semua.
Banda Aceh, 19 Mei
2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LatarBelakang........................................................................................ 1
B. RumusanMasalah................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Tafsir
surat Asy-Syams ayat 7-10.......................................................... 2
B.
Tafsir
surat Al-Qiyamah Ayat 1-6 ................................................. ....... 7
C.
Tafsir
surat yusuf Ayat 53 .................................................................. 10
D.
Tafsir
surat Al-Ma’arij ayat 19-26 ....................................................... 12
E.
Tujuan
Pembersihan Jiwa .............................................................. 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................... 17
B. Saran
................................................................................................... 17
DARTAR PUSTAKA.......................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Walaupun proyek rekontruksi islami pada kajian psikologi bukan
sekedar mengumpulkan ayat-ayat dan hadist Rasulullah yang mengulas tentang jiwa
manusia, ataupun mengumpulkan penjelasan yang banyak ditulis ditulis buku-buku
tafsir dan hadist, namun kita tetap membutuhkan semuanya itu untuk menentukan
batasan ilmu pengetahuan dan batasan definisi manusia, sehingga menjadikan
proyek inipun selaras dengan penafsiran ilmiah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist
Rasulullah.
Barang siapa yang ingin mengetahui sikap Al-Qur’an dan sunnah
terhadap proyek rekontruksi islami pada kajian psikologi, maka ia harus bisa
memahami penafsiran keduanya dengan penafsiran ilmiah disini bukan penafsiran
menurut bahasa, yakni salah satu jenis penafsiran yang apabila semua syaratnya
terpenuhi maka ia disebut penafsiran ilmiah. Yang dimaksud disini adalah
penafsiran yang dapat dipahami olek khalayak umum.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Tafsir
Surat Asy-Syams Ayat 7-10
2.
Tafsir
surat Al-Qiyamah 1-6
3.
Tafsir
Surat Yusuf Ayat 53
4. Tafsir Surat Al-Ma’arij Ayat 19-26
5. Tujuan
Pembersihan Jiwa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tafsir
Surat Asy-syams Ayat 7-10
1)
Teks
Ayat
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ ôs% yxn=øùr& `tB $yg8©.y ÇÒÈ ôs%ur z>%s{ `tB $yg9¢y ÇÊÉÈ
2)
Mufradat
/ kosa kata surat Asy-Syams 7-10
Barang
Siapa =
`tB
Mensucikannya (jiwa itu) = $yg8©.y
Dan Sesungguhnya = s%ur
Merugilah = >%s{
Mengotori (jiwa) nya.
= $yg9¢y
Dan demi jiwa = وَنَفْس
Serta penyempurnaannya =وَمَاَ سَوَّاهَا
Maka
Allah mengilhamkan = $ygyJolù;r'sù
Kefasikan = $yduqègéú
Ketakwaan = اqø)s?ur
Sesungguhnya
beruntunglah =
قَدْأَفْلَح
3)
Terjemahan
“Dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S Asy-Syams: 7-10)
4)
Tafsir
Ayat
Tafsir An-Nur
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا = “dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya)”.
Allah bersumpah
dengan jiwa yang telah diberi berbagai macam kekuatan dan berbagai naluri, yang
dengan kekuatan-kekuatan dan insting(naluri) itulah jiwa memperoleh
kesempurnaan hidup.
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا = “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya.”
Allah
mengilhamkan kepada jiwa-jiwa tentang sebab-sebab kebinasaan dan kerugian serta
sebab-sebab yang bisa dipergunakan untuk menyelamatkan jiwa dari kebinasaan.
Tegasnya, Allah memberi akal kepada manusia yang dapat dipergunakan untuk
membedakan antara kebajikan dan kejahatan serta diberi kesanggupan berbuat
maksiat yang membinasakan dan kesanggupan berbuat kebajikan yang melepaskannya
dari azab neraka.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا =“Sesungguhnya beruntunglah
orang yang mensucikan jiwa itu,”
Orang yang
menyucikan jiwanya dan menyuburkan rohaninya, serta memanjatkan jiwanya kepada
kesempurnaan. Itulah orang yang memperoleh kemenangan.
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا = “dan Sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.”
Orang yang
mencampakkan dirinya kedalam kebinasaan dengan mengerjakan kemaksiatan dan
menjauhi kebajikan serta kebaktian, itulah orang yang merugikan dirinya.[1]
Tafsir Al-Misbah
Allah
melanjutkan sumpah-Nya dengan mengingatkan tentang jiwa manusia-dan inilah yang
dituju-agar menyadari dirinya dan memperhatikan mahluk yang disebut oleh
ayat-ayat yang lalu. Allah berfirman: Dan Aku juga bersumpah Demi jiwa
manusia serta penyempurnaan cipataan-Nya. Hingga mampu menampung
yang baik dan yang buruk lalu Allah mengilhami yakni member potensi dan
kemampuan bagi bagi jiwa itu untuk menelusuri jalan kedurhakaan dan
ketaqwaannya.tersera kepada-Nya yang mana diantar keduanya yang dipilih serta
diasah dan diasuhnya.
Kata (فَأَلْهَمَهَا ) fa alhamaha terambil
dari kata ( اللَّهْم) Al- lahm yakni menelan
sekaligus. Dari sini lahir kata ( الهام ) Ilham. Memang ilham atau intusi dating
secara tiba-tiba tanpa disertai analisis sebelumnya, bahkan kadang-kandang
tidak terfikirkan sebelumnya. kedatangannya bagaikan kilat dalam sinar dan
kecepatannya, sehingga manusia tidak dapat menolaknya, sebagaimana tak dapat
pula mengundang kehadirannya. Potensi ini ada pada setiap insane, walaupun
peringkat dan kekuatannya berbeda antara seseorang dengan orang yang lain.
Ibn ‘Asyur
memehami kata Alhama dalam arti anugerah Allah yang menjadikan seseorang
memahami pengetahuan yang mendasar serta menjangkau hal-hal yang bersifat
aksioma bermula dengan keterdorongan naluriah kepada hal-hal yang bermanfaat,
hingga mencapai tahap awal dari kemampuan meraih pengetahuan yang bersifat
Akliah.
Thabathaba’i menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan “mengilhami jiwa” adalah penyampaian Allah kepada
manusia tentang sifat perbuatan apakah dia termasuk ketakwan atau kedurhakaan,
setelah memperjelas perbuatan dimksud dari sisi subtansinya sebagai perbuatan
yang dapat menampung ketakwaan atau kedurhakaan.
Sayyid Quthub
menulis bahwa manusia adalah makhluk dwi dimensi dalam tabiatnya, potensinya
dan dalam kecenderungan arahnya. Ini karena ciri penciptaannya sebagai mahluk
yang tercipta dari tanah dan hembusan ruh dari Ilahi, menjadikannya memiliki
potensi yang sama dalam kebajikan dan keburukan, petunjuk dan kesesatan.
Manusia mampu membadakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia mampu
mengarahkan dirinya menuju kebaikan atau keburukan dalam kadar yang sama.[2]
Ulama memahami
ayat diatas dalam Arti, “telah beruntunglah manusia yang disucikan jiwanya oleh Allah dan merugilah orang yang dia
dibiarkan Allah berlarut dalam pengotoran jiwanya.”[3]
Tafsir Ibnu
Katsir
Firman Allah : (وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا) “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya)”. Yakni
penciptaannya yang sempurnah lagi tegak pada fitrah yang lurus. Sedangkan
firman-Nya : (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا )“Maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,” yakni Dia mengarahkan kepada kekejian dan ketakwaan. Artinya, Dia
menjelasan kepadanya seraya menunjukkan kepada apa yang ditakdirkan untuknya.
Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Dia (Allah) menjelaskan yang baik dan yang buruk
kepadanya.
Firman Allah
Ta’alah: ( وَقَدْ خَابَ مَنْ
دَسَّاهَا .قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ) “Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, “dan Sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya.” Ada kemungkinan hal itu berarti beruntunglah
orang yang menyucikan dirinya, yakni dengan mentaati Allah, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Qatada, dan membersihkannya dari akhlak tercelah dan berbagai
hal yang hina.
Beruntunglah
orang yang disucikan jiwanya oleh Allah SWT dan merugilah orang-orang yang dibuat kotor oleh-Nya. Imam Ahmad
diriwayatkan dari zaid bin Arqam, dia berkata: “Rasulullah SAW. Telah Bersabda:
(( اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ
الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ, وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ.
اَللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا, وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُوْ مَنْ زَكَّاهَا,
أَنْتَ وَلِيُهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ اِنّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا
يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ لَا تَشْبَعُوْ وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُوْ وَدَعْوَةٍ لَا يُشْتَجَابُ
لَهَا. ))
Artinya:
“Ya Allah,
Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, juga
ketuaan, pengecut, kikir dan adzab kubur. Ya Allah, Berikanlah ketakwaan pada
jiwaku dan suciknlah, sesungguhnya Engkau sebaik-baik Rabb yang menyucikannya,
Engkau pelindung sekaligus penguasa. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari hati yang tidak pernah khusyu’ dan dari jwa yang tidak pernah
merasa puas, juga ilmu yang tidak bermanfaat serta do’a yang tidak dikabulkan.”
Zaid berkata:
“Rasulullah SAW pernag mengajarkan Do’a itu kepada kami dan kami pun
mengajarkannya kepada kalian.” Diriwayatkan oleh Muslim. [4]
B.
Tafsir
surat Al-Qiyamah 1-6
1.
Teks
Ayat
Iw ãNÅ¡ø%é& ÏQöquÎ/ ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÊÈ Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ 4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ ö@t/ ßÌã ß`»|¡RM}$# tàføÿuÏ9 ¼çmtB$tBr& ÇÎÈ ã@t«ó¡o tb$r& ãPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÏÈ
2.
Mufradat
/ kosa kata surat Al-Qiyamah 1-6
Mengumpulkan = ìyJøgªU
Besi = mtB$sàÏã
Kami berkuasa =
tûïÍÏ»s%
Hari
kiamat = ÏpyJ»uÉ)ø9$#ãPöqt
Aku bersumpah = NÅ¡ø%é&w
Dengan
jiwa = بِالنَّفْسِ
Menyesali = اللَّوَّامَةِ
Mengira = =|¡øtsr&
3.
Terjamahan
Ayat
Aku
(Allah) bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat
menyesali (dirinya sendiri)[5],
Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang
belulangnya?, bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari
jemarinya dengan sempurna, bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus
menerus, ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?. (Q.S. Al-Qiyamah: 1-6)
4.
Tafsir
Ayat
Iw ãNÅ¡ø%é& ÏQöquÎ/ ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÊÈ Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ
“Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku
bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri)”
Kata ( w ) la pada awal ayat diatas ada yang memahami sebagai
sisipan yang berfungsi menguatkan kata sesudahnya yaitu “aku bersumpah” juga
ada yang memahaminya dalam Arti tidak. Disini ada yang berpendapat bahwa kata tidak
berkaitan dengan kata sesudahnya sehingga ia berarti: “aku tidak bersumpah”
dan ada juga yang memahaminya sebagai menafikan kata yang tersirat dalam benak.
Seakan-akan menyatakan: tidak! Bukan seperti apa yang kamu duga. Aku bersumpah
demi hari kiamat.
Kata (pB#لوّ) lauwwamah terambil dari kata ( لام ) lama yang
berarti mengecam diri sendiri.
Jiwa yang menyandang
sifat ini, berada diantara dua jiwa lainnya yaitu (المطمئنّة) Al-muthma’innah yakni yang selalu
patuh kepada tuntunan Ilahi dan merasa tenang dengan-Nya, dan ( الأمارة ) Al-ammarah yakni yang selalu
durhaka dan mendorong pemiliknya untuk membangkang perintah-Nya dan mengikuti
nafsunya. Lauwwamah adalah Yang menyesal dan mengecam dirinya
jika melakukan kesalahan.[6]
Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ 4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ
“Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak
akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?, bukan demikian, sebenarnya
Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”
Apa yang ditegaskan oleh ayat yang lalu
tentang keniscayaan hari kiamat mestinya disambut dengan pembanaran oleh
seluruh mahluk, tetapi ada yang enggan percaya.
Memahami ayat diatas dalam makna
tersebut sangat jauh dari konteknya yang pada dasarnya adalah bantahan kepada
kaum musyrikin yang mengingkari kuasa
Allah membangkitkan tulang-tulang yang telah mati. Memang ayat diatas menggugah
hati dan pikiran manusia untuk memperhatikan dirinya antara lain jari
jemarinya, bagaimana Allah menciptakannya demikian istimewa.
ö@t/ ßÌã ß`»|¡RM}$# tàføÿuÏ9 ¼çmtB$tBr& ÇÎÈ ã@t«ó¡o tb$r& ãPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# ÇÏÈ
“Bahkan manusia hendak membuat maksiat
terus menerus., ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?".
Sebenarnya keniscayaan hari kiamat sudah
demikian jelas, sehingga Allah tidak
perlu bersumpah tentang keniscayaannya. Manusia bukannya mengirah bahwa
Allah tidak berkuasa mewujudkannya, bahkan yakni tetapi menusia
hendak melampiaskan hawa nafsunya Agar ia terus menerus melakukan
kedurhakaan / berbuat kemaksiatan terus menerus. Karena sifat buruk
tersebut telah demikian mantap pada kepribadiannya, atau sebagai bukti
kedurhakaannya maka ia bertanya dengan tujuan mengejek: Bilakah terjadinya
hari kiamat. Demikian Al-Biqa’I menghubungkan dan memahami ayat-ayat
diatas.[7]
C.
Tafsir
Surat Yusuf Ayat 53
1.
Teks
Ayat
!$tBur äÌht/é& ûÓŤøÿtR 4 ¨bÎ) }§øÿ¨Z9$# 8ou$¨BV{ Ïäþq¡9$$Î/ wÎ) $tB zOÏmu þÎn1u 4 ¨bÎ) În1u Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÎÌÈ
2.
Mufradat / kosa kata
surat yusuf Ayat 53
Sesungguhnya
Tuhanku = În1u ¨bÎ)
Maha
Pengampun = Öqàÿxî
Maha
Penyanyang = ×LìÏm§
Diri (jiwa) = ûÓŤøÿtR
Membebaskan
= Ìht/é&
Rahmat
Tuhanku = În1u zOÏmu
3.
Terjemah Ayat
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari
kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q.S Yusuf :
53).
4.
Tafsir Ayat
Ayat ini adalah lanjutan yang lalu.
Al-Biqai yang menilai ayat yang lalu merupakan ucapan Yusuf as. Berpendapat
Yusuf lebih lanjut berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan apapun. Namun-walaupun
demikian, aku bersukur bahwa aku dipelihara oleh Allah dan diberi-Nya taufik.
Aku tidak menuntut-pembebasanku dari kesalahan sekadar untuk pembersihan namaku,
karena sesungguhnya salah satu jenis nafsu manusia adalah nafsu yang selalu
menyuruh kepada kejahatan , kecuali pada waktu dirahmati oleh
Tuhanku-menghalanginya atau kecuali dengan melindungi seseorang sehingga Allah
swt menghalangi nafsunya atau ke-cuali apa yang dirahmati Allah dari
jenis-jenis nafsu sehingga nafsu itu tidak memerintahkan kepada kejahatan.
Adapun menurut Ibn Katsir, ayat ini
adalah lanjutan ucapan istri al-Aziz yang menggoda Yusuf itu. Disini, setelah
pengakuannya yang lalu dia melanjutkan bahwa “Aku tidak membebaskan diriku dari
kesalahan dan dosa karena nafsu selalu berbisik dan mengidam-idami. Karena
nafsu yang demikian itu maka aku menggodanya. Istri al-Aziz berkata “Akulah
yang mnyampaikan pada suamiku pada saat aku terperanjat (bertemu di pintu) dan
ketika emosi aku memuncak bahwa, Apakah pembalasan terhadap orang yang
bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau siksa yang pedih? Sebenarnya
tidak ada yang mendorong aku mengucapkannya kecuali hawa nafsu dan syahwat aku.
Sesungguhnya nafsu manusia sangat banyak mendorong pemiliknya kepada keburukan
kecuali jiwa yang dirahmati Allah dan dipelihara dari penyimpangan seperti
halnya jiwa Yusuf.[8]
Al-qur’an memperkenalkan tiga macam tingkatan
nafsu manusia yaitu:
v Pertama,
An-nafs al-ammarah yakni yang selalu mendorong pemiliknya berbuat keburukan.
v Kedua,
An-nafs al-lawwamah yang selalu mengecam pemiliknya begitu dia melakukan
kesalahan, sehingga timbul penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulanginya
lagi,
v Ketiga
An-nafs al-muthma’innah, yakni jiwa yang tenang karena selalu mengingat Allah
dan jauh dari perbuatan dosa.
D.
Tafsir Surat Al-Ma’arij Ayat 19-26
1.
Teks Ayat
* ¨bÎ) z`»|¡SM}$# t,Î=äz %·æqè=yd ÇÊÒÈ #sÎ) çm¡¡tB ¤³9$# $Yãrây_ ÇËÉÈ #sÎ)ur çm¡¡tB çösø:$# $¸ãqãZtB ÇËÊÈ wÎ) tû,Íj#|ÁßJø9$# ÇËËÈ tûïÏ%©!$# öNèd 4n?tã öNÍkÍEx|¹ tbqßJͬ!#y ÇËÌÈ úïÉ©9$#ur þÎû öNÏlÎ;ºuqøBr& A,ym ×Pqè=÷è¨B ÇËÍÈ È@ͬ!$¡¡=Ïj9 ÏQrãósyJø9$#ur ÇËÎÈ tûïÏ%©!$#ur tbqè%Ïd|Áã ÏQöquÎ/ ÈûïÏd9$# ÇËÏÈ
2.
Mufradat
/ kosa kata surat Al-Ma’arij ayat 19-26
Hari pembalasan = ûïÏd9$#يَوْمَ
Mempercayai = tbqè%Ïd|Áã
Amat kikir = $¸ãqãZtB çösø:$#
Sesungguhnya
manusia = z`»|¡SM}$# ¨bÎ)
Keluh kesah
lagi kikir =%·æqè=yd t,Î=äz
Ditimpa kesusahan = çm¡¡tB
3.
Terjemahan
Ayat
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir,
apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat
kebaikan ia Amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang
mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya
tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak
mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai
hari pembalasan. (Q.S. Al-Ma’arij : 19-26)
4.
Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman seraya menceritakan tentang manusia dan akhlak
tercelah yang diciptakan padanya. (( هَلُوعًا t,Î=äz
z`»|¡SM}$# ¨bÎ) )) “Sesungguhnya manusia
diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” Kemudian Dia menafsirkan
melalui firmannya ini : (( $Yãrây_¤³9$#
çm¡¡tB #sÎ) ))
“Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” Maksudnya jika dia
ditimpah oleh suatu hal yang menyusahkan, maka dia akan gusar dan mengeluh.
Hatinya pun hancur karna rasa takut yang amat menyeramkan dan karena putus asa
dari mendapat kebaikan. (( $¸ãqãZtBçösø:$#çm¡¡tB #sÎ)ur ))
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.”
Maksudnya, jia dia mendapat kenikmatan dari Allah, maka dia sangat kikir
memberikannya kepada orang lain dan menolak memberikan hak Allah dari nikmat
yang didapatkannya tersebut. Kemudian Allah taalah berfirman: (( tû,Íj#|ÁßJø9$#wÎ)
)) “Kecuali orang-orang yang mengerjakan Shalat.” Yakni, manusia dengan
beberapa sifat tercelahnya, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah dan
diberi taufiq serta hidayah menuju kebaikan dan juga diberi kemudahan untuk
mendapatkannya, mereka itulah orang-orang yang mengerjakan Shalat. (( tbqßJͬ!#y
öNÍkÍEx|¹
4n?tã öNèd tûïÏ%©!$# )) “yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” Ada yang berpendapat, maknanya adalah mereka senantiasa memelihara
waktu dan semua kewajiban shalat. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud,
Masruq dan Ibrahim Nakha’i.
Ada
juga yang menyatakan, maksud (( tbqßJͬ!#y))
disisni berarati tenang dan khusyu’. Seperti firman Allah Swt : (( الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ
. قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
)) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya.”(Q.S. Al-Mu’minun:1-2).
Demikian yang dikemukakan Oleh Uqbah bin ‘Amir.
Dan
firman Allah Swt : ( ( ÏQrãósyJø9$#ur È@ͬ!$¡¡=Ïj9
. ×Pqè=÷è¨B
A,ym öNÏlÎ;ºuqøBr& þÎû úïÉ©9$#ur
)) “dan orang-orang
yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta
dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. Yakni, pada harta mereka terdapat yang telah ditetapkan bagi
orang-orang yang membutuhkan.
Firman-Nya
lebih lanjut: (( ÈûïÏd9$#ÏQöquÎ/ tbqè%Ïd|Áã
tûïÏ%©!$#ur
)) “dan orang-orang
yang mempercayai hari pembalasan”.
Yakni, meyakini hari kebangkitan, hisab, dan pembalasan. Mereka mengerjakan
amal orang-orang yang mengharapkan pahala dan takut akan hukuman.[9]
E.
Tujuan Pembersihan
Jiwa
Tujuan pembersihan jiwa adalah ketakwaan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya, takwa hanya dapat
terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa. Sementara, kebersihan
jiwa juga tidak dapat terjadi tanpa takwa. Jadi, keduanya saling terkait dan
saling membutuhkan.
Sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala,
xsù… (#þq.tè? öNä3|¡àÿRr&
( uqèd ÞOn=÷ær&
Ç`yJÎ/ #s+¨?$# ÇÌËÈ
Artinya:
“Maka, janganlah kamu
menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa.”
(Qs. an-Najm: 32).
Serta firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
$pkâ:¨Zyfãyur s+ø?F{$# ÇÊÐÈ Ï%©!$#
ÎA÷sã ¼ã&s!$tB
4ª1utIt ÇÊÑÈ
Artinya:
“Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari
api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya.”
(Qs. al-Lail/92: 17-18).
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa pembersihan jiwa pada
hakikatnya adalah ketakwaan kepada Allah.[10]
Dan memang tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah.
Di sini perlu juga dipahami dengan baik sabda Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam berikut,
اَللَّهُمَّ آتِ
نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا
وَمَوْلاَهَا
( رواه مسلم )
Artinya:
“Ya Allah! Anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku,
bersihkanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkan jiwa. Engkaulah
Penguasa dan Pemiliknya.” (HR. Muslim).[11]
Dengan qalbu serta jiwa yang bersih dan
bertakwa, akan tercapailah maksud diciptakannya manusia. Yaitu hanya beribadah
dan menyembah kepada Allah saja.
Allah berfirman:
$tBur àMø)n=yz
£`Ågø:$#
}§RM}$#ur wÎ)
Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya:
“Aku tidak menciptakan
jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (menyembah) kepada-Ku.” (Qs.
adz-Dzaariyaat: 56).
Penyucian jiwa dan qalbu yang merupakan pangkal bagi
lahirnya akhlak mulia, adalah unsur penting bagi berlangsungnya kekuatan serta
kewibawaan suatu bangsa.[12]
Dan itu merupakan salah satu tugas utama yang karenanya Allah 'Azza wa
Jalla mengutus Nabi-Nya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam juga bersabda,
أخرجه البخاري فى
الأدب
(صَالِحَ: وَفِى رِوَايَةٍ) اْلأَخْلاَقِ إِنَّمَا
بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ.
المفرد والحاكم
وغيرهما
Artinya:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia (dalam riwayat lain: yang shalih)." Hadits Shahih yang
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam
al-Hakim dan lain-lain.[13]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Allah
SWT Memberikan potensi kepada manusia yaitu mampu membedakan yang mana kebaikan (kebajikan) dan mana kejahatan
(keburukan), serta beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya dan
meriugilah orang yang mengotorinya.
Apa yang ditegaskan oleh Allah SWT
tentang keniscayaan hari kiamat mestinya disambut dengan pembanaran oleh seluruh
mahluk, tetapi ada yang enggan percaya ( Tidak Mengakuinya).
Seperti yang telah dijelaskan bahwa Al-Qur’an
memperkenalkan tiga macam tingkatan nafsu manusia yaitu:
v Pertama,
An-nafs al-ammarah yakni yang selalu mendorong pemiliknya berbuat keburukan.
v Kedua,
An-nafs al-lawwamah yang selalu mengecam pemiliknya begitu dia melakukan
kesalahan, sehingga timbul penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulanginya
lagi,
v Ketiga
An-nafs al-muthma’innah, yakni jiwa yang tenang karena selalu mengingat Allah
dan jauh dari perbuatan dosa.
B.
Saran
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini
masih banyak ditemukan kekurangan-kekurangan, untuk itu kepada dosen
pembimbing, teman-teman serta yang membaca makalah ini, kami sangat berharap
kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah kami kedepannya.
[1] T.M, Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof.Dr.
Tafsir Al-qur’anul Majid, An-Nur (Semarang: Pustaka Riski
Putra, 2000), hlm. 4607
[2]
Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an,
Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.15, hal...297-299
[3] Ibid,
hal…301
[4] Dr.
Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu
Katsir, Jilid 6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010). Hal…598-600
[5] Maksudnya: bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia
tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.
[6]
Sihab, M. Quraish. Tafsir Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an,
Jakarta: Lentera Hati, 2002, vol.14, hal...623-624
[7] Ibid,
hal…624-626
[8]
M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,pesan,kesan dan keserasian Al-Qur’an (Jakarta
:Lentera Hati) hal 481-482.
[9] Dr.
Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu
Katsir, Jilid 6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010). Hal…402-403
[10]
Al-Hilaly, Salim bin 'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus,
KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal… 15
[11]
An-Nawawi, Shahih
Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq: Khalil Ma'mun Syiha, Dar
al-Ma'rifah, cet. III, 1417 H/1996 M, XVII/43, no. hadits: 6844.
[12] Al-Hilaly, Salim bin 'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus,
KSA, Dar Ibnu Affan, cet. I, 1412 H/1992 M. hal… 21
[13] Hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh al-Albani dll, lihat Al-Adab al-Mufrad karya Imam
al-Bukhari, bi takhrijat wa ta'liqat: Syaikh al-Albani, Daar
ash-Shiddiq, Jubail, KSA, cet. II, 1421 H/2000 M, hal. 100-101, no. 273. Lihat
pula Silsilah Shahihah, no. 45.
DAFTAR PUSTAKA
T.M,
Hasbi Ash-Shiddiqy, Prof.Dr. Tafsir
Al-qur’anul Majid, An-Nur (Semarang: Pustaka Riski Putra, 2000)
Sihab, M. Quraish. Tafsir
Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati,
2002, vol.15.
Dr. Abdullah bin
Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu syeikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid
6, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2010).
Sihab, M. Quraish. Tafsir
Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, Jakarta: Lentera Hati,
2002, vol.14.
Imam Jalaluddin
Al-Mahalli, As-Suyuti,Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul,
(Bandung Sinar Baru 2003) Jilid 1.
Al-Hilaly, Salim bin
'Id, Syaikh, Manhaj al-Anbiya' Fi Tazkiyati an-Nufus, KSA, Dar Ibnu
Affan, cet. I, 1412 H/1992 M.
An-Nawawi, Shahih
Muslim Syarh an-Nawawi, tahqiq: Khalil Ma'mun Syiha, Dar
al-Ma'rifah, cet. III, 1417 H/1996 M.